Rusia Guncang Kyiv dengan Rudal Hipersonik Oreshnik: Empat Tewas, Puluhan Luka, dan Ketegangan Diplomatik Meningkat
Rusia Guncang Kyiv dengan Rudal Hipersonik Oreshnik: Empat Tewas, Puluhan Luka, dan Ketegangan Diplomatik Meningkat

Rusia Guncang Kyiv dengan Rudal Hipersonik Oreshnik: Empat Tewas, Puluhan Luka, dan Ketegangan Diplomatik Meningkat

LintasWarganet.com – 25 Mei 2026 | Kuala Kyiv, ibu kota Ukraina, dikejutkan oleh serangan masif pada malam 23‑24 Mei 2026 ketika ribuan drone dan puluhan rudal meluncur dari wilayah Rusia. Serangan yang berlangsung hingga dini hari menewaskan minimal empat warga sipil dan melukai lebih dari lima puluh orang, serta merusak sejumlah gedung perumahan, fasilitas publik, dan infrastruktur penting.

Rincian Serangan dan Dampak Langsung

Menurut laporan otoritas setempat, alur serangan dimulai dengan peringatan dini yang dikeluarkan militer Ukraina. Tak lama setelah itu, langit Kyiv dipenuhi dengan ledakan keras yang menandai jatuhnya drone-dron dan rudal balistik. Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menggambarkan situasi sebagai “sangat mengerikan”. Sementara itu, kepala wilayah sekitar Kyiv melaporkan tambahan dua korban jiwa, menjadikan total kematian menjadi enam orang di area metropolitan.

Kerusakan fisik meliputi pecahnya jendela‑jendela di gedung kementerian, kerusakan pada pasar lokal, serta kerusakan struktural pada sekolah dan fasilitas kesehatan. Banyak warga terpaksa mencari perlindungan di stasiun metro bawah tanah, yang menjadi tempat penampungan darurat selama serangan berlangsung.

Rudal Oreshnik: Senjata Hipersonik Rusia

Rudal yang menjadi sorotan utama dalam serangan ini adalah Oreshnik, sebuah rudal balistik hipersonik berkemampuan menengah (IRBM) yang dapat menempuh jarak antara 3.000 hingga 5.500 kilometer. Rusia mengklaim Oreshnik mampu mengangkut hulu ledak nuklir, meski dalam serangan ini diperkirakan hanya hulu ledak konvensional yang digunakan. Kecepatan rudal dilaporkan melebihi sepuluh kali kecepatan suara, menjadikannya sulit untuk dideteksi dan dicegat oleh sistem pertahanan udara modern.

Komandan Pasukan Roket Strategis Rusia, Sergei Karakayev, menyatakan bahwa Oreshnik dapat menghantam target di seluruh Eropa. Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, mengonfirmasi bahwa sistem ini telah ditempatkan di wilayah Belarus, memperluas jangkauan operasionalnya. Rusia menegaskan bahwa rudal ini dirancang agar “ramah” terhadap hulu ledak nuklir, meskipun belum ada konfirmasi resmi penggunaan muatan nuklir dalam serangan ini.

Motif dan Balasan Politik

Rusia menjustifikasi serangan sebagai balasan atas aksi Ukraina di Starobilsk pada 22 Mei 2026, yang menewaskan 18 orang di sebuah asrama mahasiswa. Ukraina membantah bahwa serangan tersebut menargetkan asrama, menyatakan bahwa tujuan Rusia adalah pangkalan militer. Konflik ini menambah ketegangan dalam upaya perdamaian yang telah gagal tiga kali, termasuk dua pertemuan di Abu Dhabi pada awal 2026.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy demi membahas solusi damai, meskipun serangan terbaru menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen tersebut. Zelenskyy, di sisi lain, mengingatkan warga untuk mencari perlindungan dan menegaskan kesiapan Ukraina dalam menghadapi potensi serangan Oreshnik selanjutnya, berdasarkan intelijen yang didapatkan dari mitra Amerika Serikat dan Eropa.

Respons Internasional dan Dampak Keamanan

Serangan ini memicu kecaman keras dari Uni Eropa, termasuk pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron yang menyebut penggunaan rudal hipersonik sebagai pelanggaran serius terhadap stabilitas regional. Amerika Serikat melalui Kedutaan Besarnya di Kyiv juga mengeluarkan peringatan terhadap eskalasi lebih lanjut.

Angkatan Udara Ukraina melaporkan berhasil mencegat 549 drone dan 55 rudal, namun sebagian besar serangan tetap berhasil menembus pertahanan. Analisis militer menilai bahwa Oreshnik, dengan kemampuan menembus sistem pertahanan udara, menandai perubahan signifikan dalam dinamika konflik, memaksa negara-negara Eropa untuk meninjau kembali kebijakan pertahanan mereka.

Secara keseluruhan, serangan ini menegaskan kembali bahwa konflik Rusia‑Ukraina masih berada pada tahap intensif, dengan penggunaan senjata canggih yang meningkatkan risiko eskalasi lebih luas. Upaya diplomatik harus dipercepat untuk mencegah spiral kekerasan yang dapat meluas ke wilayah Eropa lainnya.