Detik-detik Penahanan WNI di Laut Israel: Solidaritas Indonesia untuk Palestina Menguat di Panggung Internasional
Detik-detik Penahanan WNI di Laut Israel: Solidaritas Indonesia untuk Palestina Menguat di Panggung Internasional

Detik-detik Penahanan WNI di Laut Israel: Solidaritas Indonesia untuk Palestina Menguat di Panggung Internasional

LintasWarganet.com – 25 Mei 2026 | Jumat, 24 Mei 2026 menjadi saksi penting bagi hubungan kemanusiaan antara Indonesia dan Palestina. Sembilan relawan Indonesia yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 kembali ke tanah air setelah mengalami penahanan selama empat hari oleh militer Israel. Di Bandara Soekarno‑Hatta, Duta Besar Palestina, Abdul Fattah Ahmad Al‑Satari, menyambut mereka sebagai “pahlawan” dan menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.

Pengalaman Penahanan: Dari Intersepsi Hingga Dokumentasi Terputus

Jurnalis Republika, Thoudy Badai, mengisahkan bahwa ia berangkat ke wilayah konflik dengan mandat meliput secara langsung proses bantuan kemanusiaan. Selama pelayaran, kapal GSF dicegat oleh Angkatan Laut Israel. Thoudy berusaha merekam semua kejadian, namun jaringan komunikasi mereka diblokir dengan perangkat jammer, menghalangi pengiriman materi ke luar. “Kami tidak bisa mengirimkan apa pun, dan akhirnya kami ikut ditahan bersama delegasi Indonesia lainnya,” ujarnya di Bandara Soekarno‑Hatta.

Selama penahanan, Thoudy menyatakan perlakuan yang dihadapi sangat berat, namun ia menekankan bahwa penderitaan rakyat Palestina jauh lebih mengerikan. “Ini bukan tentang saya atau teman‑teman, melainkan tentang Palestina. Suarakan terus perjuangan mereka hingga merdeka,” tegasnya.

Pengakuan Penyiksaan dan Pelecehan Seksual

Herman Budiyanto, aktivis GSF, menambahkan catatan mengerikan tentang penahanan. Menurutnya, lebih dari empat puluh peserta mengalami cedera serius, termasuk patah tulang, luka tembak, dan bahkan kasus pelecehan seksual pada laki‑laki maupun perempuan. Herman menggambarkan kondisi penahanan yang “seperti diperlakukan layaknya hewan”: dipaksa merangkak, menunduk, tidur di lantai basah tanpa selimut.

Meski penderitaan mereka sangat nyata, Herman menegaskan bahwa rasa bersalah mereka terasa kecil bila dibandingkan dengan penderitaan rakyat Palestina yang terus berjuang di bawah pendudukan. “Saudara kita di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan kami. Kami ini hanya debu‑debu yang beterbangan,” katanya sambil meneteskan air mata.

Duta Besar Palestina dan Sejarah Solidaritas

Dalam sambutan emosional, Duta Besar Abdul Fattah Ahmad Al‑Satari memuji keberanian para relawan Indonesia dan menekankan ikatan historis antara kedua bangsa. Ia mengingat peran Mufti Syekh Amin Al‑Husseini yang pernah menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Indonesia lewat siaran radio internasional, serta dukungan finansial Ali Taher pada masa awal Republik. “Kita berutang budi kepada Palestina. Presiden Soekarno bahkan menyatakan bahwa pekerjaan rumah Konferensi Asia‑Afrika adalah kemerdekaan Palestina,” ujar Al‑Satari.

Penghormatan Internasional: Puisi Mahmoud Darwish di Cannes 2026

Pengaruh perjuangan Palestina tak hanya terbatas di arena politik. Festival Film Cannes 2026 menutup acara dengan penghormatan kepada penyair terkemuka Mahmoud Darwish. Kutipan puisi “Ala Hadzihil Ardh ma Yastahiq al‑Hayah” dibacakan oleh sutradara Xavier Dolan, menyoroti keindahan hidup meski di bumi yang penuh penderitaan. Penghargaan sutradara terbaik dan Palme d’Or juga diiringi komentar tentang pentingnya kebebasan berekspresi dalam seni, mengaitkan kembali nilai‑nilai solidaritas yang diusung oleh GSF.

Implikasi Politik dan Harapan ke Depan

Kasus penahanan ini menambah tekanan internasional pada Israel, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan kebijakan luar negeri yang pro‑Palestina. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, terus mengupayakan pembebasan WNI yang ditahan dan menuntut penyelidikan independen atas dugaan kekerasan oleh IDF. Di sisi lain, komunitas internasional diharapkan dapat meningkatkan upaya bantuan kemanusiaan ke Gaza, mengingat GSF adalah contoh nyata kerja sama lintas negara yang berlandaskan pada nilai kemanusiaan.

Dengan kembali ke tanah air, ketujuh relawan kini mengisi kembali tugas jurnalistik dan aktivisme mereka, sambil menunggu proses pemulihan fisik dan psikologis. Mereka berharap pengalaman ini dapat menjadi katalisator bagi gerakan solidaritas yang lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di panggung global.

Secara keseluruhan, penahanan WNI di perairan Israel menegaskan kembali realitas keras yang dihadapi rakyat Palestina, sekaligus menyoroti peran penting Indonesia dalam mendukung perjuangan tersebut melalui aksi kemanusiaan, diplomasi, dan budaya.