Willem II Kembali ke Eredivisie: Drama Penaltian dan Kontroversi di Kemenangan Epik atas FC Volendam
Willem II Kembali ke Eredivisie: Drama Penaltian dan Kontroversi di Kemenangan Epik atas FC Volendam

Willem II Kembali ke Eredivisie: Drama Penaltian dan Kontroversi di Kemenangan Epik atas FC Volendam

LintasWarganet.com – 24 Mei 2026 | Setelah satu tahun absen, Willem II berhasil mengamankan tiket kembali ke Eredivisie dalam laga penentuan play‑off melawan FC Volendam. Pertandingan yang berlangsung di Kras Stadion ini tidak hanya dipenuhi gol, perpanjangan waktu, dan adu penalti, tetapi juga menyisakan momen kontroversial yang menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola.

Kronologi Pertandingan

Pertandingan dimulai dengan tekanan tinggi dari Volendam yang berusaha memperpanjang keunggulan dari laga pertama (2‑1 untuk Willem II di Tilburg). Pada menit ke‑8, Willem II menukar serangan cepat dan mencetak gol pertama lewat Siegert Baartmans setelah menerima umpan silang dari Mounir El Allouchi. Keunggulan 0‑1 itu menjadi titik balik awal, namun Volendam masih memiliki peluang.

Beberapa menit kemudian, Gibson Yah kehilangan keseimbangan setelah ditabrak Finn Stam, namun tidak ada pelanggaran yang terdeteksi. Stam memanfaatkan situasi tersebut dan melepaskan tembakan keras ke sudut bawah gawang, memperlebar keunggulan menjadi 0‑2. Volendam berusaha bangkit, namun upaya mereka belum menghasilkan gol hingga menjelang jeda pertama.

Menjelang akhir babak pertama, Yannick Leliendal mengeksekusi tembakan jarak jauh yang berhasil menembus jaringan gawang, menyamakan kedudukan menjadi 1‑1. Skor akhir babak pertama berakhir 1‑2 untuk Volendam, menutup pertandingan dengan keunggulan tipis.

Momen Penentuan di Perpanjangan Waktu

Masuk babak kedua, Volendam menurunkan Robert Mühren, pemain veteran berusia 37 tahun yang berusaha memberi dorongan akhir pada timnya. Mühren hampir mencetak gol pada menit ke‑75, namun tembakannya memantul dari tiang gawang. Beberapa menit kemudian, Brandley Kuwas menggantikan Bilal Ould‑Chikh di posisi penyerang, namun tidak mampu mengubah alur permainan.

Di menit 95, Volendam kembali memperoleh peluang emas ketika Mühren berhasil menembus pertahanan Willem II dan menyiapkan tembakan ke sudut atas. Namun, VAR meninjau kembali aksi tersebut dan membatalkan gol karena Yannick Leliendal terdeteksi berada dalam posisi offside pada fase serangan sebelumnya. Keputusan ini memicu protes dari pemain dan staf Volendam.

Setelah tidak ada gol tambahan dalam perpanjangan waktu, skor akhir perpanjangan tetap 2‑1 untuk Willem II, mengharuskan pertandingan berlanjut ke adu penalti.

Drama Penaltian dan Keputusan Krusial

Seri penalti dimulai dengan Volendam yang mengeksekusi tendangan pertama melalui Nordin Bukala, namun tembakannya berhasil dihentikan oleh kiper Willem II, Thomas Didillon‑Hödl. Didillon‑Hödl kemudian menambah kepercayaan diri dengan menyelamatkan dua tendangan lagi, termasuk satu yang sangat mendebarkan dari pemain Volendam yang hampir menanduk tiang.

Di pihak Willem II, para penendang mengeksekusi tendangannya dengan presisi, dan pada gilirannya Thomas Didillon‑Hödl menjadi pahlawan ketika mengeksekusi penalti penentu yang menambah skor menjadi 4‑3. Dengan hasil tersebut, Willem II dinyatakan sebagai pemenang dan langsung melaju ke Eredivisie, sementara FC Volendam harus menerima degradasi kembali ke Eerste Divisie.

Reaksi dan Kontroversi Pasca Pertandingan

Setelah peluit akhir, suasana di stadion menjadi tegang. Pemain Willem II kembali ke lapangan untuk mengabadikan momen kemenangan bersama suporter, namun hal ini memicu kemarahan wasit lapangan (field referee) dari FC Volendam yang secara tegas menegur pemain-pemain tersebut. Rekaman video yang beredar menunjukkan wasit tersebut melontarkan kata-kata keras dan mengarahkan pemain Willem II untuk meninggalkan area lapangan.

Para analis mengaitkan ketegangan tersebut dengan agenda pertandingan lain yang dijadwalkan di Kras Stadion pada hari berikutnya, yakni pertempuran antara Ajax dan FC Utrecht untuk tiket Conference League. Sementara itu, pelatih Willem II, John Stegeman, mengungkapkan kebahagiaan mendalam sekaligus rasa terharu karena kembali ke Eredivisie setelah satu musim di kasta kedua.

Di sisi lain, FC Volendam menilai bahwa mereka menjadi korban keputusan VAR yang menolak gol Mühren. Meskipun demikian, mereka tetap mengakui kualitas lawan dan menilai bahwa Willem II menunjukkan ketangguhan mental yang luar biasa di fase krusial.

Dengan keberhasilan ini, Willem II menatap musim depan dengan optimisme tinggi, sementara Volendam harus mempersiapkan diri untuk kembali berjuang di divisi kedua. Kedua tim kini memiliki pelajaran berharga: ketangguhan mental, pentingnya keputusan teknologi, dan dampak emosional yang tak terelakkan dalam sepak bola kompetitif.