AS desak Rusia dan Ukraina hentikan konflik pascaserangan di Luhansk
AS desak Rusia dan Ukraina hentikan konflik pascaserangan di Luhansk

AS desak Rusia dan Ukraina hentikan konflik pascaserangan di Luhansk

LintasWarganet.com – 23 Mei 2026 | Deputi Perwakilan Tetap Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Tammy Bruce, pada Rabu (22 Mei 2026) menyampaikan desakan tegas kepada kedua belah pihak, Rusia dan Ukraina, untuk segera menghentikan pertempuran yang terus berlangsung di wilayah Luhansk meski telah ada kesepakatan gencatan senjata.

Bruce menegaskan bahwa konflik pascaserangan di Luhansk tidak hanya memperburuk kondisi kemanusiaan, tetapi juga mengancam stabilitas regional dan menghambat upaya diplomatik yang sedang dijalankan oleh komunitas internasional. Ia menambah, “Kami mengingatkan bahwa setiap pelanggaran terhadap gencatan senjata dapat berujung pada konsekuensi politik dan ekonomi yang lebih luas bagi kedua pihak.”

Berikut poin-poin utama yang disampaikan oleh perwakilan AS:

  • Segera menghentikan semua operasi militer di wilayah Luhansk yang melanggar gencatan senjata yang ditetapkan pada 27 April 2026.
  • Mengizinkan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, termasuk pengiriman makanan, obat-obatan, dan perlindungan bagi warga sipil yang terdampak.
  • Mengikuti resolusi PBB yang menyerukan penarikan pasukan ke zona penyangga yang telah ditetapkan.
  • Melakukan dialog bilateral dengan mediasi internasional untuk mencari solusi politik jangka panjang.

Bruce juga menyoroti pentingnya kerja sama dengan sekutu‑sekutu Amerika Serikat di Eropa dan Asia untuk menegakkan tekanan diplomatik terhadap pihak yang melanggar. Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat siap memberikan dukungan logistik dan politik kepada upaya perdamaian, namun menegaskan bahwa keberlanjutan konflik dapat memicu tindakan tambahan, termasuk sanksi ekonomi yang lebih ketat.

Para pengamat menilai bahwa seruan ini mencerminkan peningkatan keterlibatan AS dalam mengawasi implementasi gencatan senjata, sekaligus menandai kepedulian internasional terhadap krisis kemanusiaan yang terus meningkat di Luhansk. Sejauh ini, belum ada respons resmi dari Kremlin maupun Kyiv terkait pernyataan tersebut.