Ringgit Malaysia Terkuat, Rupiah Bergolak: Apa Penyebab Fluktuasi Nilai Tukar di Asia?
Ringgit Malaysia Terkuat, Rupiah Bergolak: Apa Penyebab Fluktuasi Nilai Tukar di Asia?

Ringgit Malaysia Terkuat, Rupiah Bergolak: Apa Penyebab Fluktuasi Nilai Tukar di Asia?

LintasWarganet.com – 22 Mei 2026 | Pasar valuta asing Asia menunjukkan dinamika yang signifikan pada pertengahan Mei 2026. Rupiah Indonesia mengalami dua fase berlawanan—melemah hingga Rp17.670 per dolar AS pada akhir pekan 29/5, lalu menguat kembali ke level Rp17.653 pada perdagangan 20/5. Sementara itu, ringgit Malaysia mencatatkan performa terbaik di wilayah, bahkan dinyatakan sebagai mata uang terkuat di Asia pada 21/5. Pergerakan ini dipicu oleh kombinasi kebijakan domestik, sentimen geopolitik, dan perubahan suku bunga bank sentral.

Pelemahan Rupiah di Akhir Mei 2026

Data TradingView mencatat bahwa rupiah ditutup melemah 0,40% menjadi Rp17.670 per dolar AS pada perdagangan Kamis (29/5/2026). Penurunan ini selaras dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia, termasuk yen Jepang (‑0,11%), yuan China (‑0,01%), dan ringgit Malaysia (‑0,03%). Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa tekanan jual di pasar ekuitas domestik serta kekhawatiran investor terhadap kebijakan ekspor strategis melalui badan Danantara Sumberdaya Indonesia memperparah risk‑off sentiment.

Penguatan Rupiah Akibat Kebijakan BI

Hanya beberapa hari sebelumnya, rupiah sempat menguat 0,29% menjadi Rp17.653 per dolar AS pada perdagangan Rabu (20/5). Penguatan ini dipicu oleh keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Kebijakan tersebut dimaksudkan menstabilkan nilai tukar di tengah tekanan global akibat konflik di Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

Berikut ringkasan pergerakan nilai tukar utama pada periode tersebut:

  • Rupiah: Rp17.670 (‑0,40%) → Rp17.653 (+0,29%)
  • Ringgit Malaysia: ‑0,03% (29/5) → +0,04% (21/5)
  • Yen Jepang: ‑0,11% → +0,02%
  • Yuan China: ‑0,01% → +0,11%
  • Won Korea: ‑0,51% → +0,10%

Ringgit Malaysia Menjadi Mata Uang Terkuat di Asia

Laporan Katadata pada 21 Mei menegaskan bahwa ringgit Malaysia kembali menjadi mata uang terkuat di Asia pada 2026. Penguatan ini terjadi meski pasar global masih dilanda ketidakpastian geopolitik dan kebijakan suku bunga Federal Reserve yang ketat. Analisis menyebutkan bahwa kebijakan moneter domestik Malaysia yang tetap stabil, serta aliran masuk modal portofolio ke pasar negara berkembang, memberi dukungan tambahan bagi ringgit.

Faktor Domestik dan Global yang Mempengaruhi Kurs

Beberapa faktor utama yang menjadi penentu arah pergerakan rupiah dan ringgit selama minggu ini antara lain:

  • Kebijakan ekspor Danantara Sumberdaya Indonesia: Rencana pemerintah untuk mengelola ekspor komoditas strategis melalui badan baru menimbulkan kekhawatiran regulasi, yang menggerakkan investor menjauh dari rupiah.
  • Kenaikan suku bunga BI: Langkah kenaikan 50 basis poin berhasil menahan depresiasi rupiah dalam jangka pendek, meskipun efeknya belum cukup kuat untuk menetralkan sentimen risk‑off.
  • Konflik Timur Tengah: Eskalasi perang antara AS‑Israel dan Iran meningkatkan volatilitas minyak dunia, memicu pergerakan safe‑haven ke dolar AS dan menekan mata uang emerging market.
  • Data neraca transaksi berjalan: Prediksi defisit sekitar US$0,8 miliar pada kuartal I 2026 menambah beban bagi rupiah, sementara data aktual masih menunggu rilis.
  • Indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi: Penguatan dolar indeks mencapai 99,27, menambah tekanan pada mata uang regional termasuk rupiah.

Para pelaku pasar memperkirakan bahwa rupiah akan berfluktuasi dalam kisaran Rp17.600‑Rp17.700 per dolar AS pada minggu berikutnya, dengan volatilitas tetap tinggi. Sementara itu, ringgit diprediksi akan mempertahankan keunggulannya, terutama jika kebijakan moneter Malaysia tetap accommodative.

Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar di Asia pada pertengahan Mei 2026 mencerminkan interaksi kompleks antara kebijakan domestik, dinamika geopolitik, dan sentimen pasar global. Investor diharapkan terus memantau keputusan regulator, data eksternal, serta perkembangan perdamaian di Timur Tengah untuk menilai arah selanjutnya.