LintasWarganet.com – 20 Mei 2026 | Kylian Mbappé, bintang Prancis yang bergabung dengan Real Madrid pada musim 2024/2025, kini berada di ujung krisis gol menjelang akhir LaLiga. Meskipun masih berada di papan atas perburuan Pichichi, rentang tiga bulan terakhir memperlihatkan penurunan tajam dalam produktivitasnya.
Kemunduran Tajam di Pichichi
Sejak awal musim, Mbappé mencetak 38 gol dalam 31 pertandingan, menempatkannya pada jalur menuju rekor 60‑70 gol, mirip jejak Cristiano Ronaldo. Namun, sejak 8 Februari melawan Valencia, jumlah golnya menurun drastis. Dalam 20 pertandingan terakhir Madrid hanya mencetak 36 gol, rata‑rata 1,8 per pertandingan, sementara kontribusi Mbappé turun menjadi 8,3 %.
Statistik menunjukkan penurunan tajam dalam efektivitas tembakan: tingkat konversi menurun dari 24,7 % (38 dari 156 tembakan) menjadi hanya 6,25 % dalam tiga bulan terakhir. Waktu rata‑rata antara gol juga membengkak, dari satu gol setiap 70 menit menjadi satu gol setiap 290 menit.
| Periode | Penampilan | Gol | Tembakan | Konversi |
|---|---|---|---|---|
| Awal musim (Xabi Alonso) | 26 | 31 | 156 | 24,7 % |
| Belakang musim (Juan Arbeloa) | 19 | 12 | ? | 6,25 % |
Penurunan ini memberi ruang bagi rekan satu tim. Vinícius Júnior mencatat 14 gol, Alejandro Valverde delapan gol, dan Güler Simitkaya menambahkan tiga gol dalam periode yang sama.
Dukungan Camacho di Tengah Kontroversi
Mantan legenda Real Madrid, José Antonio Camacho, secara terbuka membela Mbappé setelah ia mendapat sorotan keras terkait perjalanan ke Italia saat sedang pulih dari cedera otot paha belakang kiri yang terjadi pada pertandingan melawan Real Betis. Camacho menekankan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada izin klub dan jadwal rehabilitasi yang ketat.
“Dia tetap teguh pada pendiriannya; orang lain mungkin tidak akan berani tampil di Bernabeu. Dia melakukannya, sementara orang lain mungkin akan bersikap rendah hati untuk menghindari cemoohan,” ujar Camacho dalam sebuah wawancara dengan media AS.
Menurut Camacho, kritik yang berlebihan mengabaikan tekanan fisik dan mental yang harus ditanggung pemain elit di era modern. Ia menilai bahwa sikap Mbappé yang tetap muncul di depan publik, meski berada dalam situasi yang berpotensi menimbulkan kemarahan suporter, menunjukkan kedewasaan dan komitmen pada klub.
Masa Depan di Bawah Mourinho
Di luar lapangan, Real Madrid telah menandatangani kesepakatan untuk mengembalikan José Mourinho sebagai pelatih kepala, mengakhiri 13‑tahun penantian. Kembalinya Mourinho dipandang dapat mengubah dinamika taktik tim, terutama dalam mengoptimalkan peran Mbappé sebagai penyerang utama.
Mourinho dikenal dengan pendekatan pragmatis dan kemampuan mengelola pemain berbintang. Jika ia berhasil menstabilkan sistem serangan, Mbappé berpeluang mengembalikan rasa percaya diri dan meningkatkan rasio tembakan‑menjadi‑gol. Namun, tekanan untuk mengembalikan gelar domestik dan bersaing di Liga Champions tetap tinggi.
Jadwal akhir musim menampilkan laga penutup melawan Athletic Bilbao pada 23 Mei di Bernabeu. Pertandingan ini menjadi ujian terakhir bagi Mbappé untuk memperbaiki statistiknya dan menegaskan kembali posisinya dalam perebutan Pichichi.
Secara keseluruhan, situasi Mbappé mencerminkan tantangan yang dihadapi pemain bintang di klub berkelas dunia: ekspektasi tinggi, sorotan media yang intens, serta kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan taktik. Dukungan dari legenda klub seperti Camacho dan kemungkinan perubahan strategi di bawah Mourinho dapat menjadi faktor penentu apakah Mbappé akan kembali menjadi mesin gol yang tak terbendung atau tetap terperangkap dalam kemerosotan.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet