Kontroversi Gol Matheus Cunha: VAR, Handball, dan Pernyataan Eks-Referee Menggemparkan Premier League
Kontroversi Gol Matheus Cunha: VAR, Handball, dan Pernyataan Eks-Referee Menggemparkan Premier League

Kontroversi Gol Matheus Cunha: VAR, Handball, dan Pernyataan Eks-Referee Menggemparkan Premier League

LintasWarganet.com – 19 Mei 2026 | Manchester United berhasil mengalahkan Nottingham Forest dengan skor 3-2 dalam laga terakhir musim Premier League 2025/2026 di Old Trafford. Kemenangan tersebut berawal dari gol kedua United yang dicetak oleh Matheus Cunha pada menit ke-58, namun gol tersebut menjadi sorotan utama setelah melalui proses VAR yang panjang dan memicu protes keras dari berbagai pihak.

Proses VAR dan Keputusan Referee

Setelah serangan United berujung pada tembakan Bryan Mbeumo yang diblokir, bola memantul dan jatuh ke kaki Matheus Cunha yang kemudian menaklukkan gawang. Namun, dalam fase build‑up, bola sempat menyentuh lengan Mbeumo. VAR mengirimkan wasit Michael Salisbury ke monitor pitch‑side untuk meninjau apakah terjadi handball yang seharusnya mengakibatkan gol dibatalkan.

Salisbury memutuskan bahwa kontak tersebut bersifat “accidental” dan menegaskan keputusan awalnya untuk memberi gol kepada Cunha. Keputusan ini kemudian dipertanyakan oleh sejumlah tokoh sepak bola, termasuk mantan wasit Premier League Mark Clattenburg, mantan pemain Alan Shearer, serta mantan kapten United Gary Neville.

Pernyataan Mark Clattenburg dan Gary Neville

Mark Clattenburg, yang pernah menjadi wasit utama di liga Inggris, menilai keputusan tersebut sebagai “poor decision” dan menyebut bahwa bola jelas mengenai lengan Mbeumo yang berada jauh dari tubuhnya. Ia berargumen bahwa bahkan jika kontaknya tipis, hal itu sudah cukup untuk mengkategorikan handball.

Gary Neville, dalam siaran langsung Sky Sports, melontarkan kritik tajam dengan menyebut keputusan VAR “ridiculous”. Menurutnya, VAR telah jelas menunjukkan adanya handball, namun wasit tetap mengabaikannya.

Analisis Eks‑Referee Dermot Gallagher dan Pengakuan PGMO

Dermot Gallagher, mantan ofisial Premier League, menegaskan bahwa Mbeumo mengontrol bola dengan tangannya, menciptakan keuntungan yang signifikan bagi rekan setimnya. Gallagher menyatakan bahwa Salisbury “seduced by this directive” yang menganggap kontak lengan dengan tubuh sebagai hal yang dapat diterima, padahal menurutnya jelas terjadi handball.

Pada hari berikutnya, Howard Webb, Chief Refereeing Officer dari Professional Game Match Officials Limited (PGMO), menghubungi kedua klub dan mengakui adanya kesalahan dalam keputusan tersebut. Webb menjelaskan bahwa VAR menilai adanya handball dan bahwa keputusan Salisbury bertentangan dengan panduan resmi.

Reaksi Manajer Nottingham Forest dan Implikasi Atas Aturan

Vitor Pereira, pelatih Nottingham Forest, menyatakan kekecewaan mendalam, menilai bahwa gol tersebut seharusnya dibatalkan karena pelanggaran jelas. Ia menambahkan bahwa ketidakjelasan aturan handball menimbulkan kebingungan di kalangan manajer dan pemain, dan mengharapkan klarifikasi lebih lanjut.

Aturan perubahan 2021 menyatakan bahwa handball tidak dianggap pelanggaran jika bersifat tidak sengaja dan tidak memberikan keuntungan signifikan. Namun, kasus ini menyoroti interpretasi subjektif antara “accidental” dan “advantageous”.

Dampak Terhadap Posisi Klasemen

Walaupun kontroversi ini tidak mengubah posisi akhir klasemen—Manchester United mengamankan tempat ketiga dan tiket Liga Champions, sementara Nottingham Forest mengamankan keselamatan dari degradasi—insiden ini menambah daftar keputusan VAR yang dipertanyakan pada musim ini. Ini merupakan kali keempat dalam satu musim di mana wasit menolak rekomendasi VAR setelah meninjau rekaman.

Kontroversi ini juga memicu perdebatan luas di media sosial dan antara analis sepak bola mengenai konsistensi penerapan aturan handball, serta menimbulkan tekanan pada otoritas liga untuk meningkatkan transparansi dan pelatihan wasit.

Secara keseluruhan, gol Matheus Cunha menjadi contoh nyata bagaimana teknologi VAR, meskipun dirancang untuk mengurangi kesalahan, masih dapat menimbulkan kebingungan ketika interpretasi manusia tetap menjadi faktor penentu. Ke depan, diharapkan adanya peninjauan ulang terhadap pedoman handball agar keputusan yang diambil lebih konsisten dan dapat diterima oleh semua pihak.