LintasWarganet.com – 19 Mei 2026 | Jakarta, 18 Mei 2026 – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, kembali menjadi sorotan publik setelah dua agenda pentingnya digelar dalam seminggu terakhir. Di satu sisi, ia mengkritisi dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap kemampuan berpikir kritis generasi muda pada konferensi nasional The Cornerstone. Di sisi lain, ia menerima penunjukan sebagai anggota Dewan Penasihat Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh, Arab Saudi, yang menandai langkah baru dalam diplomasi kota dan pertukaran pengetahuan internasional.
AI dan Generasi Muda: Risiko dan Peluang
Pada konferensi The Cornerstone, sebuah forum lintas generasi yang diselenggarakan oleh EduALL, Anies menekankan bahwa AI bukan sekadar alat, melainkan fenomena yang mengubah pola belajar, berpikir, dan memecahkan masalah remaja. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebih pada AI dapat mengikis kemampuan berpikir kritis dan kemandirian mental. “Kalau seseorang disebut sangat menguasai AI, bukan karena dia banyak menggunakan AI, tapi karena dia tahu kapan tidak menggunakan AI,” ujar Anies, menegaskan pentingnya kebijaksanaan dalam pemanfaatan teknologi.
Para pelajar yang hadir, termasuk Matahati Sabri dari GENIUS Research Club, menyuarakan pengalaman mereka. Sabri mengaku AI mempermudah riset dan brainstorming, namun juga menimbulkan rasa nyaman yang mengurangi dorongan untuk berpikir mandiri. Ia mengisahkan kompetisi yang melarang penggunaan AI, di mana ia harus kembali melakukan riset secara manual. Pengalaman itu, kata Sabri, mengajarkan nilai pentingnya melatih nalar secara mandiri.
Moderator Mercy Widjaja menambahkan pertanyaan kritis mengenai peran orang tua dan pendidik. Anies menanggapi dengan menyoroti kebutuhan adaptasi berkelanjutan para guru dan orang tua, yang harus terus belajar agar dapat mendampingi anak di era digital yang berubah cepat. Tanpa arahan yang tepat, AI berpotensi menggantikan proses pembentukan karakter dan daya pikir mandiri anak.
Peran Orang Tua dan Guru dalam Era Digital
Anies menekankan tiga langkah utama yang harus diambil oleh keluarga dan institusi pendidikan:
- Memberikan literasi digital yang menekankan etika penggunaan AI.
- Mendorong proyek belajar berbasis masalah yang memaksa siswa berpikir kritis tanpa bantuan AI.
- Melakukan evaluasi rutin terhadap dampak teknologi pada kesejahteraan emosional dan akademik siswa.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lembaga non‑formal seperti klub STEM untuk menciptakan ekosistem belajar yang seimbang antara teknologi dan kreativitas manusia.
Tugas Internasional: Dewan Penasihat Riyadh
Pada hari yang sama, Anies mengumumkan melalui akun Instagram pribadinya bahwa ia telah ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasihat Komisi Kerajaan untuk Kota Riyadh. Penunjukan ini memungkinkan ia berpartisipasi dalam Riyadh Competitiveness Forum (RCF), sebuah pertemuan strategis yang mempertemukan penasihat dari berbagai negara dengan pemerintah kota Riyadh.
Selama tiga hari di Riyadh, Anies bersama tim Karsa Citylab membahas strategi pembangunan kota yang berkelanjutan, transportasi publik terintegrasi, dan inovasi perkotaan. Ia menyoroti ketertarikan Riyadh untuk mempelajari pengalaman Jakarta, khususnya transformasi transportasi publik yang berhasil mengurangi kemacetan dan meningkatkan mobilitas warga. “Senang dan terhormat bahwa Riyadh bersemangat belajar dari kota-kota dunia, dengan Jakarta sebagai salah satu tolok ukur yang dianggap sukses,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Penunjukan ini bukan sekadar simbolik; ia membuka peluang pertukaran pengetahuan antara dua kota besar di dunia Muslim, serta memperkuat jaringan kerja sama dalam bidang perencanaan kota, energi bersih, dan teknologi pintar. Anies menilai kehadirannya di Riyadh sebagai bukti bahwa Jakarta telah diakui sebagai kota global yang mampu memberikan inspirasi bagi pembangunan perkotaan lainnya.
Sinergi antara Kebijakan Pendidikan dan Diplomasi Kota
Kedua agenda tersebut menampilkan pola pikir Anies yang konsisten: mengedepankan kebijakan yang berlandaskan pada pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi internasional. Sementara ia menyerukan perlunya literasi AI di sekolah, ia juga menunjukkan bahwa pemahaman tentang teknologi dapat menjadi nilai tambah dalam hubungan diplomatik kota. Kedua bidang – pendidikan dan pembangunan perkotaan – saling melengkapi dalam upaya mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan global.
Ke depan, Anies berjanji akan terus mengawal agenda pendidikan karakter di Indonesia, sambil memperluas jaringan kerjasama internasional melalui peran barunya di Riyadh. Ia menekankan bahwa keberhasilan generasi muda tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dalam negeri, melainkan juga oleh kemampuan bangsa untuk belajar dan berkolaborasi secara global.
Dengan fokus pada pembentukan karakter yang kuat, literasi digital yang bijak, dan pertukaran pengetahuan lintas negara, Anies Baswedan menegaskan komitmennya untuk menjadikan Indonesia dan kota-kota mitra internasional sebagai contoh keberlanjutan dan inovasi di era digital.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet