Misteri Pembelian Sukhoi Su-35: Antara Janji Pemerintah dan Kerahasiaan Anggaran
Misteri Pembelian Sukhoi Su-35: Antara Janji Pemerintah dan Kerahasiaan Anggaran

Misteri Pembelian Sukhoi Su-35: Antara Janji Pemerintah dan Kerahasiaan Anggaran

LintasWarganet.com – 19 Mei 2026 | Jakarta, 18 Mei 2026 – Pemerintah Indonesia kembali menjadi sorotan publik setelah muncul kabar mengenai rencana akuisisi jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia. Pengumuman tersebut menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan anggaran, prosedur pengadaan, dan dampaknya terhadap kebijakan pertahanan negara.

Latar Belakang Pengadaan Su-35

Rusia telah menampilkan varian terbaru jet tempur Su-57, termasuk model dua kursi yang ditujukan untuk pasar ekspor. Inovasi tersebut menandakan ambisi Rusia untuk memperluas pangsa pasar alutsista di luar negeri, termasuk negara‑negara yang tengah mencari alternatif modernisasi angkatan udara. Di Indonesia, fokus utama saat ini adalah pembelian jet berbasis teknologi Rusia, yakni Sukhoi Su-35, yang dijanjikan dapat meningkatkan kapabilitas udara TNI‑AU secara signifikan.

Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

Dalam pertemuan di Lanud Halim Perdanakusuma pada Senin (18/5/2026), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa anggaran untuk proyek jet tempur KF‑21 Boramae dari Korea Selatan telah tersedia sejak lama dan siap diimplementasikan. Ia menambahkan bahwa hingga saat ini belum ada pengajuan resmi terkait pendanaan KF‑21 ke kantornya, sehingga ia belum dapat memberikan detail lebih lanjut.

Berkenaan dengan Sukhoi Su‑35, Purbaya menyatakan bahwa dirinya tidak menguasai rincian anggaran khusus untuk pesawat tersebut. “Anda mestinya tanya Menhan, saya tidak mengerti, saya cuma bagian bayar saja,” ujarnya, menegaskan peran Kementerian Keuangan sebagai pembayar setelah alokasi anggaran disetujui oleh Kementerian Pertahanan.

Anggaran Pertahanan dan Proyeksi Pengeluaran

Purbaya mengakui bahwa anggaran pertahanan Indonesia diproyeksikan akan naik signifikan hingga tahun 2029, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat alutsista tiga matra TNI. Meskipun demikian, rincian nilai total pengadaan Su‑35 tetap dirahasiakan, dengan perkiraan biaya yang dapat melampaui 8 miliar dolar AS, tergantung pada paket lengkap termasuk persenjataan, pelatihan, dan dukungan logistik.

Implikasi Geopolitik dan Strategis

Pengadaan Su‑35 berada dalam konteks ketegangan geopolitik global, khususnya hubungan militer antara Rusia dan Barat. Indonesia berupaya menyeimbangkan hubungan dengan kedua blok, sambil memastikan kemandirian pertahanan. Pilihan Su‑35 dianggap strategis karena kemampuan manuver, jangkauan tempur, dan sistem avionik yang relatif matang.

Di sisi lain, varian dua kursi Su‑57 yang baru diperkenalkan Rusia menandakan upaya diversifikasi produk militer untuk menarik pembeli potensial. Meskipun Indonesia belum mengumumkan minat pada Su‑57, kehadiran alternatif generasi kelima ini dapat memengaruhi negosiasi harga dan teknologi dengan pemasok lain, termasuk Rusia.

Proses Pengadaan dan Tantangan

  • Pengajuan resmi dari Kemenhan ke Kemenkeu masih belum diterima, sehingga proses pencairan dana tertunda.
  • Kebutuhan koordinasi antar‑lembaga, terutama antara Menhan, Menkeu, dan TNI‑AU, untuk menyesuaikan spesifikasi teknis dan jadwal pengiriman.
  • Pengawasan publik dan transparansi anggaran menjadi sorotan, mengingat nilai investasi yang sangat besar.
  • Potensi sanksi internasional atau tekanan diplomatik terkait pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) dari Rusia.

Perbandingan Su‑35 dan Su‑57 Dua Kursi

Su‑35 merupakan jet generasi keempat dengan kemampuan dogfight tinggi, radar aktif‑pada‑piring (AESA), dan kecepatan supersonik hingga Mach 2,5. Sementara Su‑57, termasuk varian dua kursi, merupakan jet generasi kelima dengan stealth, sensor fusion, dan kemampuan supercruise. Kedua platform menawarkan keunggulan masing‑masing, namun perbedaan biaya, infrastruktur pendukung, dan tingkat kematangan produksi menjadi faktor penentu dalam keputusan pembelian.

Jika Indonesia memilih Su‑35, proses integrasi dengan sistem pertahanan existing akan lebih cepat dibandingkan dengan Su‑57 yang masih dalam tahap produksi terbatas. Namun, kehadiran varian dua kursi Su‑57 dapat membuka peluang pelatihan bersama, transfer teknologi, dan potensi kerja sama industri di masa depan.

Kesimpulan

Rencana pembelian Sukhoi Su‑35 menegaskan ambisi Indonesia untuk memperkuat kemampuan udara secara signifikan. Namun, proses pengadaan masih dihadapkan pada tantangan administratif, transparansi anggaran, dan dinamika geopolitik. Pernyataan Menteri Keuangan yang menegaskan peranannya sebagai “bagian bayar” tanpa mengungkap detail anggaran menambah lapisan misteri di balik proyek ini. Di tengah persaingan antara jet generasi keempat dan kelima, keputusan akhir akan mencerminkan prioritas strategis Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan dan kesiapan pertahanan di era ketidakpastian global.