LintasWarganet.com – 18 Mei 2026 | Jakarta, 18 Mei 2026 – Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menggelar rapat kerja yang dipenuhi kritik tajam terhadap Bank Indonesia (BI) setelah nilai tukar rupiah mencatat rekor terlemah dalam sejarah, menyentuh Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat. Pertemuan yang berlangsung di Kompleks DPR ini menyoroti dampak luas pelemahan mata uang, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 20 persen, serta tekanan yang dirasakan oleh kelas menengah dan sektor UMKM.
Rupiah Merosot di Semua Front
Gubernur BI Perry Warjiyo dihadapkan pada fakta bahwa rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar AS, melainkan juga mengalami koreksi signifikan terhadap dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, dolar Hong Kong, dan euro Uni Eropa. Anggota Komisi XI dari Partai Amanat Nasional (PAN), Primus Yustisio, menegaskan bahwa “Bank Indonesia sudah menghilangkan trust” dan menilai kredibilitas lembaga tersebut semakin dipertanyakan.
Kritik Politik dan Tuntutan Pengunduran Diri
Primus Yustisio melangkah lebih jauh dengan menyarankan agar Gubernur Perry Warjiyo mempertimbangkan pengunduran diri sebagai bentuk “gentleman”. Ia mengutip sebuah hadits yang menyiratkan bahwa penunjukan orang yang tidak kompeten dapat memicu kehancuran, sekaligus menekankan bahwa langkah mundur tidak selalu berarti penghinaan, melainkan dapat meningkatkan rasa hormat publik.
Suara Lain dari Komisi XI
Anggota Fraksi Golkar, Muhidin M Said, menyoroti dampak perang antara Iran dan Amerika Serikat yang memperumit kondisi nilai tukar. Ia mengingatkan bahwa kelas menengah serta UMKM di daerah‑daerah mulai merasakan tekanan berat akibat inflasi impor dan biaya produksi yang melonjak. “Kita perlu langkah konkret dari Bank Indonesia untuk meyakinkan pasar, terutama agar kelas menengah tidak terkikis,” ujar Muhidin.
Fraksi PDIP, Harris Turino, mengkritisi pernyataan BI yang menyebutkan kurs rupiah masih “stabil”. Ia menegaskan bahwa meskipun secara relatif kurs mungkin tampak stabil dibanding negara lain, masyarakat merasakan kenaikan harga impor, beban energi, dan tekanan pangan yang menggerus daya beli. Harris menuntut penjelasan detail tentang kebijakan yang telah diambil dan mengapa hasilnya belum tampak.
Indeks Saham dan Kondisi Global
Selain nilai tukar, IHSG Indonesia mengalami penurunan hampir 20 persen sejak awal 2026, berbanding terbalik dengan pasar saham di sejumlah negara yang mulai rebound setelah pecahnya konflik Iran‑AS pada 28 Februari 2026. Penurunan tersebut menambah beban psikologis pada investor domestik, memperparah persepsi negatif terhadap ekonomi Indonesia.
Permintaan Komisi XI kepada Bank Indonesia
- Penjelasan rinci mengenai penyebab pelemahan rupiah terhadap enam mata uang utama.
- Rencana aksi konkret untuk menstabilkan nilai tukar dalam jangka pendek dan menumbuhkan kembali kepercayaan pasar.
- Transparansi kebijakan moneter termasuk penggunaan suku bunga, intervensi pasar, dan cadangan devisa.
- Evaluasi kemungkinan pergantian pimpinan BI jika tidak ada perbaikan signifikan.
Komisi XI menegaskan bahwa kredibilitas Bank Indonesia adalah fondasi kestabilan ekonomi. Oleh karena itu, mereka menuntut laporan komprehensif dalam waktu singkat, sekaligus membuka ruang dialog dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha, serikat pekerja, dan akademisi.
Rapat kerja ini menandai intensifikasi pengawasan parlemen terhadap kebijakan moneter, khususnya pada masa volatilitas global yang tinggi. Dengan tekanan publik yang meningkat, langkah selanjutnya akan sangat menentukan arah kebijakan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan eksternal dan internal.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet