Gubernur Papua Dorong Hilirisasi Hasil Hutan di Sarmi
Gubernur Papua Dorong Hilirisasi Hasil Hutan di Sarmi

Gubernur Papua Dorong Hilirisasi Hasil Hutan di Sarmi

LintasWarganet.com – 17 Mei 2026 | Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri, menekankan pentingnya mempercepat hilirisasi hasil hutan di Kabupaten Sarmi sebagai upaya memperkuat perekonomian masyarakat setempat yang bergantung pada sumber daya alam.

Hilirisasi yang dimaksud meliputi proses pengolahan, pemanfaatan, dan pemasaran produk kayu serta hasil hutan non-kayu sehingga nilai tambah dapat dinikmati oleh penduduk lokal, bukan hanya pada tahap ekstraksi mentah.

Dalam kunjungan kerjanya ke Sarmi, Fakhiri menyoroti tiga prioritas utama:

  • Mengembangkan industri pengolahan kayu berkelanjutan yang ramah lingkungan.
  • Memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui pelatihan dan akses permodalan.
  • Menjamin kepatuhan terhadap peraturan perundang‑undangan kehutanan serta memperkuat tata kelola lahan.

Gubernur juga mengumumkan rencana pembentukan kawasan industri berbasis hasil hutan di Sarmi, yang akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti pabrik pengeringan kayu, pusat riset bahan baku, dan jaringan distribusi regional. Proyek ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan rumah tangga, dan mengurangi tingkat kemiskinan di wilayah tersebut.

Beberapa tantangan yang harus dihadapi antara lain keterbatasan infrastruktur transportasi, kebutuhan tenaga kerja terampil, serta potensi konflik lahan. Untuk mengatasinya, pemerintah provinsi berkoordinasi dengan kementerian terkait, lembaga keuangan, serta pelaku industri swasta guna menyusun paket kebijakan dan insentif.

Fakhiri menekankan bahwa hilirisasi hasil hutan bukan sekadar agenda ekonomi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk melestarikan ekosistem hutan Papua. Dengan mengoptimalkan nilai tambah produk hutan, diharapkan tekanan terhadap penebangan liar dapat berkurang.

Implementasi program ini dijadwalkan mulai kuartal ketiga tahun ini, dengan target pertama berupa pembangunan pabrik pengolahan kayu skala pilot pada akhir 2024. Pemerintah akan melakukan evaluasi berkala dan menyesuaikan kebijakan berdasarkan hasil lapangan.

Jika berhasil, model hilirisasi di Sarmi dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia yang memiliki potensi hutan besar, sekaligus memperkuat posisi negara sebagai pemain utama dalam industri kehutanan berkelanjutan.