Kegilaan Peluncuran Royal Pop: Swatch x Audemars Piguet Bikin Antrean Panjang, Chaos, dan Harga Resell Melambung
Kegilaan Peluncuran Royal Pop: Swatch x Audemars Piguet Bikin Antrean Panjang, Chaos, dan Harga Resell Melambung

Kegilaan Peluncuran Royal Pop: Swatch x Audemars Piguet Bikin Antrean Panjang, Chaos, dan Harga Resell Melambung

LintasWarganet.com – 17 Mei 2026 | Jakarta, 16 Mei 2026 – Kolaborasi antara Swatch dan Audemars Piguet (AP) yang dinamakan “Royal Pop” memicu fenomena massal di lebih dari dua puluh kota dunia pada hari peluncurannya. Antrean panjang, kerusuhan, dan penutupan gerai menjadi headline utama, sementara harga sekunder melambung drastis dalam hitungan jam.

Antrean Panjang dan Chaos di Gerai Swatch

Sejak dini hari, gerai Swatch di beberapa pusat perbelanjaan utama—seperti Grand Indonesia dan Pacific Place di Jakarta, ION Orchard dan Marina Bay Sands di Singapura, serta Phoenix Marketcity di Bengaluru—dipenuhi oleh ribuan penggemar yang menunggu kesempatan membeli jam tangan edisi terbatas ini. Di Jakarta, para pembeli terlihat berjejer sejak pukul 04.00 WIB, bahkan ada yang datang sebelum mall dibuka.

Situasi serupa terjadi di Mumbai, Delhi, New York, Bangkok, dan Dubai. Di Palladium Mall, Mumbai, kerumunan menjadi “absolut chaos” dengan terdengar teriakan “We are not animals” dari seorang staf yang menolak membuka toko. Di Dubai Mall dan Mall of the Emirates, Swatch akhirnya memutuskan membatalkan penjualan demi keselamatan publik setelah kepadatan yang tak terkendali.

Strategi Penjualan Tanpa Online

Seperti kolaborasi Swatch sebelumnya, Royal Pop hanya dijual secara fisik di toko‑toko yang berpartisipasi. Kebijakan ini meningkatkan eksklusivitas, namun juga menimbulkan tekanan besar pada konsumen yang harus bersaing secara langsung di lokasi. Setiap pembeli hanya diizinkan membeli satu unit, sebuah aturan yang dimaksudkan untuk mencegah pembelian massal oleh reseller.

Varian dan Harga Eceran

  • Lépine-Style – Crown di posisi 12 jam, harga Rp 7.599.000 (sekitar ₹ 41.000).
  • Savonnette – Crown di posisi 3 jam, harga Rp 8.199.000 (sekitar ₹ 44.000).

Harga di pasar resmi masih berada di kisaran Rp 7,5-8,2 juta, namun setelah jam ini terjual habis dalam satu jam di gerai Jakarta, harga di platform e-commerce melompat menjadi Rp 20-25 juta, hampir tiga kali lipat nilai ritel.

Faktor Penyebab Resell Melonjak

Beberapa faktor memperparah fenomena resale:

  1. Keterbatasan stok. Meskipun Swatch menyatakan bahwa koleksi tidak terbatas, produksi membutuhkan waktu lama karena proses manufaktur Swiss yang presisi.
  2. Eksklusivitas lokasi. Di Indonesia, Royal Pop hanya tersedia di dua gerai, memperketat pasokan.
  3. Desain ikonik. Koleksi menggabungkan elemen Royal Oak—bezel segi delapan, exposed screws, dan integrated bracelet—dengan estetika Pop era 1980-an Swatch, menjadikannya barang kolektif yang diincar baik oleh penggemar fashion maupun kolektor jam.
  4. Media sosial. Video antrean panjang dan kerusuhan tersebar luas di TikTok, Instagram Reels, dan YouTube, meningkatkan hype dan mendorong pembeli sekunder.

Reaksi Publik dan Penyelenggara

Pengunjung yang berhasil masuk mengaku campur aduk antara kegembiraan dan kekecewaan. Seorang pria yang merekam video di Bengaluru menyatakan, “Kami bukan hewan; toko tidak akan dibuka hari ini,” menyoroti rasa tidak nyaman yang muncul akibat penumpukan massa. Di Dubai, Rishi Navani, yang menunggu selama tujuh jam, memuji keputusan pembatalan, “Keamanan publik lebih penting.”

Pihak Swatch menegaskan bahwa pembatalan di Dubai dilakukan “dalam pertimbangan keselamatan publik”. Mereka menambah bahwa restock akan dilakukan, namun tidak ada jadwal pasti karena proses produksi yang memakan waktu.

Implikasi bagi Industri Fashion dan Horologi

Kasus Royal Pop menjadi studi kasus penting mengenai bagaimana kolaborasi luxury‑streetwear dapat memicu permintaan berlebih dan tantangan logistik. Penjualan eksklusif tanpa kanal online menambah nilai “scarcity” yang memicu perilaku pembeli panic buying. Di sisi lain, kejadian ini menyoroti perlunya manajemen kerumunan yang lebih baik, terutama bagi merek yang mengadakan peluncuran produk terbatas di lokasi publik.

Para analis pasar memperkirakan bahwa fenomena serupa akan terus muncul, terutama ketika merek-merek mewah berkolaborasi dengan brand streetwear atau fast fashion. Penting bagi penyelenggara acara untuk menyiapkan protokol keamanan, sistem antrean digital, atau penjualan berbasis tiket untuk mengurangi risiko kerusuhan.

Secara keseluruhan, peluncuran Royal Pop menegaskan bahwa kolaborasi antara Swatch dan Audemars Piguet berhasil menciptakan buzz global, namun juga memperlihatkan tantangan operasional yang harus dihadapi oleh industri dalam mengelola permintaan konsumen yang tinggi.