Trump Mulai Lawatan ke China, Isu Iran dan Taiwan Jadi Sorotan
Trump Mulai Lawatan ke China, Isu Iran dan Taiwan Jadi Sorotan

Trump Mulai Lawatan ke China, Isu Iran dan Taiwan Jadi Sorotan

LintasWarganet.com – 13 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump memulai kunjungan kenegaraannya ke Republik Rakyat Tiongkok pada Selasa, 12 Mei 2024. Lawatan ini merupakan rangkaian pertemuan tingkat tinggi yang dirancang untuk menata kembali hubungan bilateral yang sempat tegang selama masa pemerintahan sebelumnya.

Agenda utama meliputi pembahasan perdagangan, teknologi, serta keamanan regional. Dalam pertemuan dengan Presiden Xi Jinping, kedua pemimpin menekankan pentingnya stabilitas pasar global dan upaya bersama mengatasi hambatan tarif yang masih membekas.

Di luar urusan ekonomi, dua isu geopolitik menonjol dalam diskusi: program nuklir Iran dan situasi di Selat Taiwan. Trump menegaskan kembali sikap keras Washington terhadap Tehran, menyerukan penerapan sanksi tambahan bila Iran melanjutkan pelanggaran terhadap perjanjian non‑proliferasi. Ia juga menyinggung perlunya kerja sama internasional untuk menahan ambisi nuklir negara tersebut.

Sementara itu, terkait Taiwan, Trump mengulang kembali kebijakan “One China” Amerika Serikat, namun menambahkan bahwa keamanan di wilayah tersebut tetap menjadi prioritas strategis Washington. Ia menyoroti pentingnya dialog damai antara Beijing dan Taipei serta menolak penggunaan kekuatan militer sebagai solusi.

Pemerintah Indonesia memantau perkembangan ini dengan seksama. Kementerian Luar Negeri menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan kebijakan luar negeri jika terjadi perubahan signifikan dalam dinamika Asia Timur.

Berikut beberapa poin penting yang muncul selama lawatan:

  • Penandatanganan protokol kerja sama perdagangan antara AS dan China.
  • Pernyataan tegas tentang sanksi terhadap Iran bila program nuklir tidak dihentikan.
  • Penegasan kembali dukungan AS terhadap prinsip “One China” sekaligus penekanan pada stabilitas Selat Taiwan.
  • Komitmen bersama untuk memperkuat keamanan siber dan melawan penyebaran teknologi berisiko.

Para pengamat menilai bahwa kunjungan ini dapat membuka peluang renegosiasi tarif dan memperbaiki iklim investasi, namun ketegangan di kawasan masih menjadi faktor penghambat. Dampak jangka panjangnya akan terlihat pada pergeseran aliansi politik dan ekonomi di Asia Pasifik.