Melangitkan Doa di Bulan Mulia dari Atas Lumpur Bencana: Tradisi Ziarah Makam di Aceh

LintasWarganet.com – 12 Mei 2026 | Di tengah deru hujan lebat yang melanda wilayah Aceh akhir-akhir ini, masyarakat setempat tetap melestarikan tradisi ziarah makam sebagai wujud doa dan penghormatan kepada para almarhum, terutama pada bulan suci Ramadan yang dikenal sebagai “bulan mulia”.

Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana spiritual, melainkan juga simbol solidaritas bagi keluarga yang kehilangan anggota mereka akibat bencana lumpur yang melanda beberapa kecamatan. Meskipun jalan menuju makam seringkali terhalang oleh genangan lumpur, warga tetap bertekad menapaki jejak langkah demi langkah untuk mempersembahkan doa.

Berikut adalah rangkaian kegiatan yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Aceh saat melakukan ziarah pada bulan Ramadan:

  • Persiapan mental dan fisik, termasuk memakai pakaian yang layak serta membawa peralatan kebersihan.
  • Berangkat bersama keluarga atau kelompok, biasanya dimulai sebelum subuh agar dapat melaksanakan shalat dhuha di lokasi.
  • Menggunakan jalur alternatif yang telah disiapkan petugas kebencanaan untuk menghindari lumpur berbahaya.
  • Mengucapkan doa khusus untuk para korban bencana, serta membaca Al‑Qur’an atau wirid sebagai bentuk pengharapan.
  • Menyampaikan salam hormat pada makam, menabur bunga atau sesaji sederhana seperti kurma.
  • Kembali ke rumah sebelum matahari terik, kemudian melanjutkan ibadah puasa sepanjang hari.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh menunjukkan bahwa sejak awal musim hujan, lebih dari 1.200 rumah terdampak banjir dan lumpur, dengan korban tewas mencapai 27 jiwa. Meskipun demikian, partisipasi warga dalam ziarah makam tetap tinggi, mencerminkan ketangguhan budaya spiritual Aceh.

Para tokoh agama setempat menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini sebagai sarana penguatan iman dan pemulihan emosional. “Doa yang dipanjatkan di atas makam bukan sekadar ritual, melainkan permohonan agar Allah memberikan ketabahan kepada keluarga yang berduka,” ujar Kiai H. Abdul Rahim, pemuka Masjid Baiturrahman, Aceh Besar.

Selain menumbuhkan rasa kebersamaan, ziarah makam pada bulan Ramadan juga menjadi ajang edukasi bagi generasi muda. Sekolah-sekolah agama mengajak murid-muridnya untuk ikut serta, sekaligus menanamkan nilai kepedulian terhadap sesama serta pentingnya melestarikan warisan budaya.

Dengan semangat “melangitkan doa” meski berada di atas lumpur, masyarakat Aceh menunjukkan bahwa keimanan dapat menembus segala rintangan, menjadikan tradisi ziarah makam sebagai cahaya harapan di tengah kesulitan.