Frugal Living vs Flexing: Perang Gaya Hidup di Media Sosial

LintasWarganet.com – 09 Mei 2026 | Media sosial kini menjadi arena utama bagi dua pola hidup yang tampak berlawanan: hidup hemat (frugal living) dan pamer kemewahan (flexing). Kedua gaya ini bersaing mempengaruhi cara orang menilai diri sendiri dan orang lain di dunia maya.

Frugal living menekankan pengelolaan keuangan yang bijak, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, serta mengutamakan kebutuhan dasar. Pengikutnya biasanya berbagi tips menghemat, pengalaman belanja barang bekas, atau cara memanfaatkan sumber daya secara maksimal.

Sebaliknya, flexing menonjolkan gaya hidup mewah lewat posting foto liburan eksotis, barang bermerek, atau pencapaian materi yang mencolok. Tujuannya sering kali untuk memperoleh pengakuan, meningkatkan status sosial, atau sekadar mengekspresikan kebanggaan pribadi.

Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, seorang antropolog Indonesia, menilai media sosial memiliki peran ganda. Di satu sisi, platform ini memungkinkan penyebaran informasi tentang penghematan dan keberlanjutan. Di sisi lain, algoritma yang mengutamakan konten visual menstimulasi kompetisi tampilan, sehingga mendorong flexing.

Beberapa dampak yang diidentifikasi antara lain:

  • Kesenjangan persepsi: Pengguna yang sering melihat konten flexing cenderung merasakan tekanan finansial atau rasa tidak puas.
  • Normalisasi penghematan: Konten frugal living dapat menumbuhkan budaya konsumsi bertanggung jawab, terutama di kalangan generasi milenial.
  • Pengaruh psikologis: Perbandingan sosial di media dapat menimbulkan stres, kecemasan, atau motivasi positif tergantung pada konteks.

Untuk menyeimbangkan kedua arus tersebut, ahli menyarankan beberapa langkah praktis:

  1. Mengatur algoritma: Pilih konten yang memberikan nilai edukatif, bukan sekadar hiburan visual.
  2. Mengembangkan literasi digital: Ajarkan cara menilai kredibilitas dan motivasi di balik setiap posting.
  3. Mendorong dialog terbuka: Buat komunitas daring yang menekankan transparansi keuangan dan dukungan emosional.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika ini, masyarakat dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi keuangan, bukan sekadar panggung pamer. Perang gaya hidup ini masih berlangsung, namun pilihan akhir tetap berada di tangan tiap individu.