ASEAN Jaga Keamanan Rantai Pasok Global di Tengah Krisis Hormuz

LintasWarganet.com – 05 Mei 2026 | Para Menteri Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN (AECC) menegaskan pentingnya menjaga stabilitas rantai pasok global setelah munculnya krisis di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dunia. Dalam pertemuan virtual yang diadakan pada awal pekan ini, delegasi dari sepuluh negara anggota ASEAN menyoroti dampak potensial gangguan lalu lintas laut terhadap pasokan energi, bahan baku industri, serta harga komoditas internasional.

Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menyumbang sekitar tiga per delapan minyak bumi dunia. Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan tersebut menimbulkan risiko penutupan atau pembatasan lalulintas kapal tanker, sehingga dapat memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu aliran barang-barang penting ke pasar global.

Untuk mengantisipasi skenario terburuk, Menteri Perdagangan Indonesia, Rahmat, menyampaikan bahwa ASEAN akan memperkuat koordinasi kebijakan dan memperluas jaringan logistik alternatif. Beberapa langkah konkret yang dibahas meliputi:

  • Peningkatan kapasitas pelabuhan di jalur lintas Selat Malaka dan Laut Cina Selatan sebagai alternatif rute pengiriman.
  • Pengembangan kerjasama keamanan maritim antara negara-negara ASEAN, termasuk patroli gabungan dan pertukaran intelijen.
  • Diversifikasi sumber energi, khususnya peningkatan impor LNG dan gas alam cair dari negara-negara penyuplai non‑Timur Tengah.
  • Peninjauan kembali regulasi bea masuk dan prosedur bea cukai untuk mempercepat pergerakan barang dalam situasi darurat.
  • Peningkatan investasi pada infrastruktur digital guna memantau aliran barang secara real‑time.

Selain itu, para menteri menekankan perlunya dialog konstruktif dengan pemangku kepentingan global, termasuk organisasi internasional seperti International Maritime Organization (IMO) dan negara‑negara produsen minyak utama. Dengan memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa secara damai, ASEAN berharap dapat meminimalisir eskalasi yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi dunia.

Ketua Komisi Perdagangan ASEAN, Mohammad Sari, menambahkan bahwa krisis Hormuz bukan hanya masalah regional, melainkan tantangan global yang menuntut solidaritas bersama. “Kami siap menjadi platform yang memfasilitasi dialog, koordinasi, dan aksi cepat guna memastikan bahwa rantai pasok global tetap terjaga,” ujarnya.

Para analis memperkirakan bahwa langkah-langkah ini dapat menurunkan volatilitas pasar energi hingga 15 persen dalam enam bulan ke depan, sekaligus memberikan ruang bagi produsen dan konsumen untuk menyesuaikan strategi bisnis mereka.

Dengan komitmen kuat dari semua negara anggota, ASEAN berupaya menjadikan stabilitas rantai pasok global sebagai prioritas utama, meski dihadapkan pada dinamika geopolitik yang terus berubah.