Naga, Kota, dan Jalan Pulang yang Dipertaruhkan

LintasWarganet.com – 02 Mei 2026 | Di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya, Kebun Binatang Surabaya (KBS) menjadi sorotan utama setelah pihak pengelola mengumumkan rencana pemindahan seekor komodo (sering disebut “naga” dalam budaya lokal) ke kandang baru yang lebih luas. Langkah ini menimbulkan perdebatan tentang dampak terhadap lalu lintas, keamanan warga, serta keberlangsungan program konservasi.

Komodo dewasa yang menjadi primadona KBS ini telah tinggal di zona eksisting selama lebih dari satu dekade. Namun, karena pertumbuhan populasi pengunjung dan kebutuhan ruang yang lebih besar untuk meniru habitat alaminya, dewan kota memutuskan untuk membangun kandang baru di sisi selatan kebun binatang. Proses pemindahan diperkirakan memakan waktu tiga hari, melibatkan tim veteriner, ahli reptil, serta unit transportasi khusus.

Berikut adalah tahapan utama yang direncanakan oleh KBS:

  • Persiapan kandang baru dengan suhu, kelembaban, dan substrat yang disesuaikan untuk komodo.
  • Pengujian kesehatan komodo selama 48 jam sebelum dipindahkan.
  • Penggunaan kendaraan berpendingin khusus untuk mengangkut komodo dengan aman.
  • Pemantauan intensif selama 24 jam pertama setelah penempatan.

Pihak kepolisian kota Surabaya mengantisipasi kemacetan pada rute utama yang akan dilalui kendaraan transportasi. Jalan utama Jalan Raya Darmo dan Jalan Panglima Sudirman diperkirakan akan ditutup sebagian selama dua jam pada sore hari. Pengaturan lalu lintas meliputi pemasangan rambu sementara, penempatan petugas di persimpangan, serta penyuluhan kepada pengendara melalui media sosial resmi kota.

Komunitas pecinta hewan dan aktivis lingkungan menyambut baik upaya peningkatan fasilitas, namun ada kekhawatiran terkait stres pada komodo dan potensi gangguan terhadap ekosistem mikro di sekitar kandang baru. Sejumlah pakar konservasi menekankan pentingnya monitoring jangka panjang, termasuk pencatatan perilaku makan, reproduksi, dan interaksi sosial komodo.

Walikota Surabaya, Rini Soemarno, menegaskan bahwa keputusan ini tidak hanya demi kesejahteraan hewan, melainkan juga sebagai langkah edukatif bagi publik. “Kita ingin warga Surabaya melihat secara langsung bagaimana upaya konservasi dapat dijalankan di dalam kota, tanpa mengorbankan keselamatan publik,” ujarnya dalam konferensi pers.

Jika semua berjalan lancar, komodo tersebut akan kembali berkeliling area publik KBS pada awal pekan depan, menyambut ribuan pengunjung yang antusias. Pemerintah kota berjanji akan terus mengevaluasi dampak transportasi dan keamanan, serta memastikan bahwa proses ini menjadi contoh bagi kebun binatang lain di Indonesia.