LintasWarganet.com – 01 Mei 2026 | Sejak awal tahun 2026, pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, semakin menegaskan kedekatan strategis dengan Beijing, sebuah langkah yang mendapat sorotan luas di tengah ketegangan geopolitik yang meluas. Kunjungan bilateral, pernyataan bersama, dan peningkatan kerja sama ekonomi menandai sebuah fase baru dalam hubungan dua negara yang sudah lama bersinggungan. Kedekatan ini tidak hanya bersifat simbolis; ia mencerminkan sinergi antara kebijakan internal China yang sedang mengukir momentum kuat dalam Repelita ke-15 dan kebutuhan politik serta ekonomi Korea Utara.
Kebijakan Ekonomi China dalam Repelita ke-15
Pemerintah Tiongkok mengawali periode Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) ke-15 dengan pertumbuhan stabil, peningkatan kapasitas industri, serta reformasi yang menekankan kemandirian sains dan teknologi. Fokus beralih dari sektor properti dan investasi besar menuju inovasi, teknologi tinggi, dan pembangunan berkelanjutan. Manufaktur teknologi tinggi mencatat lonjakan laba hingga 47,4 persen, didorong oleh kecerdasan buatan, semikonduktor, serta produk optik dan elektronik.
- Penguatan sektor AI dan semikonduktor meningkatkan daya saing industri manufaktur.
- Pengembangan 23 kawasan perdagangan bebas menyumbang sekitar 20% investasi asing.
- Pengurangan daftar negatif investasi menjadi 29 sektor, menghapus pembatasan di bidang manufaktur.
- Strategi ‘pintu terbuka’ kini menekankan keterbukaan institusional dan standar internasional.
Dampak pada Hubungan Korea Utara‑China
Kim Jong Un memandang kebijakan terbuka Tiongkok sebagai peluang untuk mengakses teknologi, investasi, dan jaringan pasar yang selama ini terbatas oleh sanksi internasional. Beijing, dengan agenda meningkatkan permintaan domestik, membuka ruang bagi perdagangan bilateral yang lebih luas, termasuk kebutuhan energi, bahan baku, dan peralatan industri bagi Pyongyang. Di samping itu, dukungan politik China memberikan lapisan keamanan diplomatik bagi rezim Kim, terutama saat Amerika Serikat memperketat sanksi dan meningkatkan kehadiran militer di kawasan Indo‑Pasifik.
- Kerjasama energi: China meningkatkan pasokan batu bara dan listrik ke Korea Utara, mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
- Transfer teknologi: Akses ke teknologi tinggi melalui proyek bersama di zona ekonomi khusus.
- Dukungan politik: China terus menolak sanksi unilateral dan mengadvokasi dialog multilateral.
Ketegangan global—dari konflik di Ukraina hingga persaingan perdagangan antara AS dan China—menjadikan aliansi ini semakin strategis. Sementara Washington menyoroti bahaya konsolidasi kekuatan China‑Korea Utara, Beijing menegaskan komitmen pada stabilitas regional dan penolakan terhadap campur tangan eksternal. Dinamika ini memperkuat posisi Kim Jong Un sebagai pemimpin yang mampu memanfaatkan perubahan kebijakan ekonomi China untuk memperkuat keamanan internal dan eksternal.
Di dalam negeri, kebijakan domestik China yang menekankan peningkatan konsumsi dan sirkulasi ekonomi memberi sinyal bahwa permintaan domestik akan terus tumbuh, membuka peluang ekspor produk ringan dan bahan mentah dari Korea Utara. Hal ini sejalan dengan upaya Pyongyang untuk diversifikasi sumber pendapatan di luar bantuan tradisional, sekaligus mengurangi tekanan sanksi.
Para pengamat menilai bahwa hubungan yang semakin solid ini bukan sekadar hubungan “teman lama”, melainkan sebuah kemitraan yang saling menguntungkan dalam konteks persaingan geopolitik yang semakin kompleks. China memperoleh sekutu politik yang dapat memperkuat posisinya dalam perundingan internasional, sementara Korea Utara mendapatkan jaring pengaman ekonomi dan politik yang vital.
Kesimpulannya, kedekatan antara Kim Jong Un dan China mencerminkan sebuah strategi dua arah: Tiongkok mengukuhkan keberhasilan awal Repelita ke-15 melalui aliansi yang memperluas pengaruh politik, sementara Korea Utara memanfaatkan kebijakan ekonomi terbuka China untuk mengurangi isolasi dan memperkuat posisi tawar di panggung global.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet