Iran Beri Sinyal Positif, Namun Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Terjaga di Selat Hormuz
Iran Beri Sinyal Positif, Namun Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Terjaga di Selat Hormuz

Iran Beri Sinyal Positif, Namun Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Terjaga di Selat Hormuz

LintasWarganet.com – 01 Mei 2026 | JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping masih berada di kawasan Selat Hormuz meski otoritas Iran telah memberikan sinyal positif terkait izin melintas. Kedua kapal tersebut mengangkut total sekitar dua juta barel minyak mentah, yang menjadi komoditas strategis bagi pasar energi domestik.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyatakan bahwa keputusan akhir untuk membuka jalur pelayaran berada sepenuhnya di tangan pemerintah Iran. “Sampai saat ini keputusan untuk perizinan kapal‑kapal itu dari pihak Iran memang sudah diputuskan,” ujarnya kepada wartawan di kantor Kementerian pada Kamis, 30 April 2026.

Koordinasi yang Masih Berlanjut

Meskipun ada “lampu hijau” secara resmi, Nabyl menegaskan bahwa proses koordinasi internal di Iran masih berlangsung. “Ada koordinasi di internal mereka juga yang karena kondisi di sana belum bisa semuanya diterapkan. Jadi kapal sejauh ini masih dalam tahap tersebut,” jelasnya. Hal ini menandakan bahwa meskipun izin sudah ada di atas kertas, faktor operasional di lapangan—seperti keamanan pelayaran, inspeksi teknis, dan persetujuan pihak‑pihak terkait—belum sepenuhnya terpenuhi.

Kementerian Luar Negeri terus menjalin komunikasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran serta otoritas pelabuhan Iran. “Teknisnya memang masih kita lakukan pembicaraan termasuk oleh KBRI di Teheran dengan pihak‑pihak di sana. Spesifiknya itu cukup banyak ya teknisnya di sana,” ujar Nabyl, menambahkan bahwa aspek teknis meliputi verifikasi dokumen kapal, prosedur inspeksi, dan penetapan jalur aman bagi tanker.

Dampak Terhadap Pasokan Minyak Nasional

Penahanan dua kapal tanker ini berpotensi menimbulkan gangguan pada pasokan minyak mentah domestik, terutama mengingat volume hampir dua juta barel yang dikandungnya. Jika terjadi penundaan lebih lama, importir dapat menghadapi fluktuasi harga dan kebutuhan untuk mencari alternatif pemasok. Namun, Kementerian Energi dan BUMN Pertamina menyatakan kesiapan cadangan strategis untuk menutup kekosongan sementara.

Selain faktor logistik, situasi ini menambah ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia, di mana Selat Hormuz tetap menjadi jalur penyebrangan penting bagi hampir satu perempat perdagangan minyak dunia. Iran sebelumnya sempat mengancam blokade total selat tersebut, menegaskan tidak ada satu liter minyak pun yang dapat lewat tanpa persetujuan Tehran.

Langkah Selanjutnya

  • Penguatan dialog diplomatik antara Jakarta dan Teheran untuk mempercepat proses perizinan.
  • Monitoring real‑time kondisi kapal melalui sistem pelacakan satelit.
  • Penyiapan rencana kontinjensi di sektor energi nasional, termasuk penggunaan cadangan strategis.
  • Koordinasi dengan pihak internasional untuk memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Dengan tekanan internasional yang terus meningkat, Iran tampaknya masih berhati‑hati dalam menyeimbangkan kepentingan politik dalam negeri dan tekanan ekonomi global. Sementara itu, pemerintah Indonesia menegaskan komitmen penuh untuk melindungi kepentingan perusahaan nasionalnya dan memastikan kelancaran pasokan energi.

Kesimpulannya, meski sinyal positif dari Iran telah mengurangi ketidakpastian, proses koordinasi internal dan teknis masih menjadi hambatan utama yang menghalangi dua tanker Pertamina keluar dari Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan dan siap mengambil langkah diplomatik maupun operasional untuk memastikan kapal‑kapal tersebut dapat melanjutkan pelayaran secepatnya.