Kemendiktisaintek Minta Prodi Dipilah Sesuai Industri, Pemerhati: Jurusan Filsafat Terancam Punah
Kemendiktisaintek Minta Prodi Dipilah Sesuai Industri, Pemerhati: Jurusan Filsafat Terancam Punah

Kemendiktisaintek Minta Prodi Dipilah Sesuai Industri, Pemerhati: Jurusan Filsafat Terancam Punah

LintasWarganet.com – 27 April 2026 | Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) baru-baru ini mengeluarkan kebijakan yang menekankan pentingnya pemisahan program studi (prodi) sesuai dengan kebutuhan industri. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan relevansi lulusan dengan pasar kerja dan menurunkan tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi.

Namun, langkah tersebut menuai kritikan tajam dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Pengamat JPPI, Ubaid Matraji, menilai bahwa orientasi yang terlalu mengutamakan industri dapat mengorbankan program studi yang bersifat humaniora dan ilmu dasar, termasuk jurusan filsafat. Menurutnya, filosofi akademik memiliki peran strategis dalam membentuk kemampuan berpikir kritis, etika, dan budaya intelektual bangsa.

Berikut beberapa poin utama yang disorot oleh JPPI:

  • Penekanan pada kebutuhan industri dapat membuat prodi yang tidak langsung menghasilkan produk atau layanan komersial dipandang kurang penting.
  • Jurusan filsafat, yang tradisionalnya lebih menekankan pada pemikiran konseptual, berisiko mengalami penurunan dana, penurunan jumlah mahasiswa, bahkan potensi penutupan.
  • Kebijakan ini dapat mempersempit ruang lingkup penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan yang bersifat fundamental.
  • Mahasiswa dan dosen di bidang filsafat mungkin kesulitan menyesuaikan kurikulum dengan standar industri tanpa mengorbankan nilai-nilai dasar ilmu filsafat.

Ubaid Matraji menambahkan bahwa reformasi pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya berfokus pada angka penyerapan kerja, melainkan juga pada kualitas pendidikan, kebebasan akademik, dan kontribusi jangka panjang terhadap kebudayaan. Ia mengingatkan bahwa banyak inovasi teknologi dan sosial yang lahir dari pemikiran kritis yang tidak langsung berhubungan dengan kebutuhan industri.

Di sisi lain, Kemendikbudristek berargumen bahwa penyesuaian prodi dengan industri dapat meningkatkan daya saing lulusan Indonesia di pasar global. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, menegaskan pentingnya sinergi antara dunia akademik dan sektor bisnis untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang responsif.

Perdebatan ini mencerminkan dilema antara pendekatan utilitarian dalam pendidikan tinggi dan upaya melestarikan ilmu dasar yang menjadi pondasi peradaban. Kedepannya, keputusan kebijakan akan sangat memengaruhi arah perkembangan program studi di seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.