LintasWarganet.com – 27 April 2026 | Lebanon terus dilanda serangkaian serangan udara dan darat yang dilancarkan oleh militer Israel sejak awal Maret 2026, menambah deretan korban jiwa yang kini telah menembus angka ribuan. Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa sejak 2 Maret hingga akhir April, lebih dari 2.500 warga sipil telah tewas, sementara lebih dari 7.700 lainnya mengalami luka-luka.
Lonjakan korban jiwa dalam tiga bulan pertama
Awal serangan dimulai pada 2 Maret 2026 setelah kelompok Hizbullah menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai respon atas kematian pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Israel menanggapi dengan operasi militer yang menargetkan posisi-posisi yang diyakini sebagai basis Hizbullah di selatan Lebanon. Dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, jumlah korban tewas terus meningkat secara signifikan.
Menurut laporan resmi Kementerian Kesehatan, pada 26 April 2026 tercatat 2.509 orang tewas dan 7.755 orang luka. Angka tersebut meliputi 14 korban jiwa dalam satu serangan udara yang terjadi pada 27 April, di mana dua wanita dan dua anak termasuk di antara yang meninggal. Serangan tersebut juga melukai 37 orang lainnya, termasuk tiga wanita.
Serangan terbaru dan dampaknya
Serangan pada 27 April 2026 menargetkan wilayah Kfar Tibnit dan beberapa desa di sekitar Sungai Litani. Israel mengklaim tindakan tersebut merupakan respons terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah, sementara pihak Lebanon menegaskan bahwa serangan tersebut melanggar perjanjian gencatan yang telah diperpanjang hingga Mei.
Sementara itu, pada 27 April pukul 05:20 WIB, militer Israel melaporkan kematian satu prajuritnya, Sersan Idan Fooks (19 tahun), dalam pertempuran di Lebanon selatan. Insiden ini menambah ketegangan di wilayah perbatasan, di mana kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.
Gencatan senjata yang rapuh
Gencatan senjata yang pertama kali diberlakukan pada 17 April 2026 dan diperpanjang pada 16 April selama sepuluh hari, dijanjikan dapat meredam intensitas pertempuran. Namun, Israel tetap melanjutkan operasi militer di zona “kuning” yang dideklarasikan di dekat perbatasan, sambil mengeluarkan perintah evakuasi untuk tujuh desa di selatan Lebanon. Hizbullah menegaskan tidak akan menghentikan serangan terhadap pasukan Israel selagi gencatan senjata dianggap tidak efektif.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel berhak bertindak terhadap “serangan yang direncanakan, akan terjadi, atau sedang berlangsung” dan menekankan bahwa keamanan Israel dan pasukannya menjadi prioritas utama.
Respons kemanusiaan dan tantangan logistik
Petugas darurat di Lebanon terus berupaya mengevakuasi warga yang terjebak di zona konflik. Rumah sakit di Beirut dan kota-kota selatan melaporkan beban berat dalam menangani ribuan korban luka, termasuk anak-anak dan wanita hamil. Kekurangan perbekalan medis dan tenaga medis menjadi kendala utama dalam memberikan perawatan yang memadai.
Organisasi bantuan internasional menyerukan penangguhan penuh semua operasi militer hingga ada jaminan keamanan bagi penduduk sipil. Namun, hingga kini tidak ada tanda-tanda penghentian serangan dari pihak Israel.
Dengan jumlah korban tewas yang terus meningkat dan situasi gencatan senjata yang belum stabil, prospek perdamaian di wilayah ini tetap sangat tidak menentu. Kematian ribuan warga sipil menambah beban kemanusiaan yang harus dihadapi oleh komunitas internasional dalam upaya menengahi konflik ini.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet