LintasWarganet.com – 25 April 2026 | Hubungan transatlantik antara Amerika Serikat dan sekutu NATO di Eropa kini berada di ambang keretakan setelah kritik tajam dari mantan Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen. Ia menilai kebijakan dan pernyataan Presiden Donald Trump selama masa kepemimpinannya menimbulkan rasa sakit dan berpotensi mengancam keamanan kolektif aliansi.
Rasmussen menyebut bahwa sikap “America First” yang dipromosikan Trump, termasuk ancaman penarikan pasukan dari Eropa serta penolakan terhadap pembiayaan pertahanan bersama, mengganggu fondasi strategis NATO yang dibangun sejak 1949. Ia mengingatkan bahwa aliansi tersebut bukan sekadar perjanjian militer, melainkan ikatan politik yang menyeimbangkan kekuatan global.
- Trump mengkritik anggota NATO yang tidak memenuhi target belanja pertahanan 2% dari PDB.
- Ia menyinggung kemungkinan penarikan pasukan AS dari Jerman dan Turki.
- Retorika “pembayaran dulu, perlindungan kemudian” memicu ketegangan diplomatik.
Para analis politik menilai pernyataan mantan bos NATO ini mencerminkan kekhawatiran luas di antara para pemimpin Eropa. Beberapa negara anggota, seperti Polandia dan Baltik, menuntut kepastian bahwa Amerika Serikat tetap menjadi penopang utama pertahanan kolektif. Di sisi lain, Washington berargumen bahwa beban pertahanan harus dibagi lebih adil.
Meski demikian, NATO belum secara resmi menyatakan akan “bercerai” dari Amerika Serikat. Organisasi tersebut menegaskan bahwa dialog terus berlanjut dan bahwa aliansi tetap berkomitmen pada prinsip pertahanan bersama. Namun, pernyataan Rasmussen memberi sinyal kuat bahwa kegagalan menemukan keseimbangan dapat memicu krisis eksistensial bagi NATO.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet