Menkeu Purbaya: Pemerintah Masuk Survival Mode, Tak Ada Ruang Main‑Main

LintasWarganet.com – 25 April 2026 | Dalam sebuah pernyataan terbaru, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kebijakan pemerintah kini berada dalam fase “survival mode” atau mode bertahan. Menurutnya, kondisi ekonomi global yang tidak menentu, inflasi yang masih tinggi, serta tekanan pada neraca fiskal memaksa pemerintah untuk mengalihkan fokus dari program ekspansif ke upaya menjaga stabilitas makroekonomi.

“Kita tidak lagi memiliki ruang untuk main‑main. Setiap kebijakan harus diuji ketat terhadap dampak fiskal dan kemampuan pembiayaan negara,” ujar Purbaya dalam konferensi pers yang diadakan pada hari Senin.

Beberapa faktor yang mendorong masuknya pemerintah ke dalam “survival mode” antara lain:

  • Inflasi konsumen yang masih berada di atas target Bank Indonesia, meski menunjukkan tren penurunan.
  • Peningkatan defisit anggaran yang diproyeksikan mencapai 6,5 % dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun fiskal 2024/2025.
  • Penurunan cadangan devisa akibat arus keluar modal dan penurunan harga komoditas ekspor utama.
  • Kenaikan biaya energi global yang menambah beban pada sektor transportasi dan industri.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Keuangan merencanakan serangkaian langkah penyesuaian, antara lain:

  1. Pengetatan pengeluaran non‑prioritas dan peninjauan kembali proyek infrastruktur yang belum menghasilkan nilai tambah signifikan.
  2. Peningkatan efisiensi penerimaan pajak melalui digitalisasi sistem perpajakan dan penegakan yang lebih ketat terhadap tax evasion.
  3. Reformasi subsidi energi dengan mengalihkan bantuan langsung tunai kepada rumah tangga berpendapatan rendah.
  4. Penguatan mekanisme manajemen utang, termasuk diversifikasi sumber pembiayaan dan negosiasi ulang tenor obligasi.

Berikut adalah gambaran singkat indikator ekonomi utama yang menjadi acuan kebijakan “survival mode”:

Indikator 2023 Proyeksi 2024
Inflasi YoY 5,2 % 4,5 % (target)
Defisit Anggaran 5,8 % GDP 6,5 % GDP
Cadangan Devisa US$ 130 miliar US$ 115 miliar
Pertumbuhan PDB 5,1 % 4,3 %

Penguatan posisi fiskal diharapkan dapat menurunkan risiko suku bunga naik secara agresif serta menjaga kepercayaan investor. Namun, Purbaya mengingatkan bahwa proses transisi ini tidak akan mudah dan memerlukan dukungan seluruh elemen bangsa, termasuk sektor swasta dan masyarakat luas.

Dengan menempatkan pemerintah dalam mode bertahan, kebijakan fiskal akan lebih berhati‑hati, menekankan pada pengelolaan utang yang berkelanjutan serta prioritas pada program yang langsung berdampak pada kesejahteraan rakyat.