Apple Turunkan Spesifikasi iPhone 18, Sementara Devil Wears Prada 2 Dituduh Rasis

LintasWarganet.com – 24 April 2026 | Pada Kamis, 23 April 2024, Antara melaporkan dua berita utama yang mengguncang dunia teknologi dan hiburan. Pertama, Apple mengumumkan penurunan spesifikasi pada iPhone 18 yang sempat menjadi sorotan publik. Kedua, filmDevil Wears Prada 2” kembali menjadi perbincangan setelah muncul tuduhan rasisme terkait beberapa adegan dan dialog.

Penurunan spesifikasi iPhone 18

Apple memutuskan untuk menurunkan beberapa komponen utama pada iPhone 18 dibandingkan dengan model sebelumnya. Perubahan utama meliputi:

  • Prosesor: Dari chip A18 Bionic ke versi yang sedikit lebih rendah, A17 Pro, untuk mengurangi biaya produksi.
  • Kapasitas baterai: Pengurangan 10% dari kapasitas standar, yang diperkirakan akan mengurangi masa pakai satu kali pengisian.
  • Kamera: Sensor utama beresolusi 48 MP diganti menjadi 45 MP, dengan sedikit penurunan pada fitur zoom optik.
  • Layar: Refresh rate standar turun dari 120 Hz ke 90 Hz pada varian dasar.

Apple mengklaim bahwa penyesuaian ini bertujuan untuk menurunkan harga jual dan memperluas pangsa pasar di negara berkembang. Sebuah tabel perbandingan singkat menyoroti perbedaan utama:

Fitur iPhone 18 (Rencana Awal) iPhone 18 (Versi Final)
Chip A18 Bionic A17 Pro
Kapasitas Baterai 3400 mAh 3060 mAh
Kamera Utama 48 MP 45 MP
Refresh Rate Layar 120 Hz 90 Hz

Reaksi pasar beragam. Analis memperkirakan penurunan spesifikasi dapat menurunkan margin keuntungan Apple, namun sekaligus memungkinkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan rival Android. Konsumen di segmen menengah tampak antusias, sementara penggemar setia Apple mengkritik keputusan tersebut sebagai langkah mundur.

Kontroversi Devil Wears Prada 2

Film sekuel “Devil Wears Prada” yang dirilis minggu ini menimbulkan protes setelah sejumlah penonton dan aktivis menilai ada unsur stereotip rasial dalam dialog serta representasi karakter minoritas. Kritik utama berfokus pada:

  • Penyajian karakter Asia yang terkesan satu dimensi dan menyinggung budaya.
  • Penggunaan istilah yang dianggap merendahkan dalam adegan tertentu.
  • Kekurangan aktor/aktris dari latar belakang etnis yang beragam dalam pemeran utama.

Produser film mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan niat mereka untuk menampilkan beragam perspektif, namun mengakui bahwa ada bagian yang kurang sensitif dan berjanji akan melakukan revisi pada materi promosi serta mendukung program edukasi anti‑rasisme.

Para pengamat menilai kontroversi ini mencerminkan peningkatan kesadaran publik terhadap isu representasi dalam industri hiburan. Beberapa platform streaming bahkan menambahkan label peringatan pada film tersebut, memberi kesempatan penonton untuk membuat pilihan yang lebih informasi.

Secara keseluruhan, minggu ini menandai dinamika penting di dua sektor: Apple berusaha menyeimbangkan inovasi dengan aksesibilitas, sementara dunia film terus berupaya memperbaiki standar representasi sosial. Kedua peristiwa tersebut menegaskan betapa keputusan korporasi dapat memicu perdebatan luas di kalangan konsumen dan masyarakat umum.