64% Pelaku UMKM Didominasi Perempuan, Kemendag Dorong Akselerasi Digitalisasi

LintasWarganet.com – 22 April 2026 | Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menegaskan perannya sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Data terbaru menunjukkan bahwa 64% pelaku UMKM adalah perempuan, menandakan dominasi gender dalam kegiatan usaha mikro dan kecil. Keberadaan perempuan di sektor ini meningkatkan inklusi ekonomi dan membuka peluang kerja bagi keluarga serta komunitas lokal.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menanggapi tren ini dengan meluncurkan rangkaian program akselerasi digitalisasi bagi UMKM. Upaya tersebut mencakup pelatihan e‑commerce, pendampingan adopsi teknologi, serta penyediaan akses ke platform digital resmi pemerintah.

  • Pembekalan e‑commerce: workshop intensif mengenai cara membuka toko online, optimasi produk, dan strategi pemasaran digital.
  • Integrasi sistem pembayaran: bantuan untuk menghubungkan usaha dengan layanan pembayaran elektronik dan QR Code.
  • Penggunaan media sosial: pelatihan pemanfaatan Instagram, TikTok, dan platform lain untuk meningkatkan visibilitas dan penjualan.
  • Akses pembiayaan digital: kemudahan pengajuan kredit melalui fintech yang bekerjasama dengan pemerintah.

Digitalisasi diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar UMKM, meningkatkan efisiensi operasional, serta menurunkan biaya distribusi. Bagi perempuan pengusaha, kemampuan mengelola usaha secara online memberikan fleksibilitas waktu dan meningkatkan peluang pertumbuhan bisnis.

Meskipun demikian, masih terdapat tantangan signifikan, antara lain rendahnya literasi digital di kalangan pelaku usaha, keterbatasan infrastruktur internet di daerah terpencil, serta hambatan dalam mengakses modal yang bersyarat.

Kemendag berkomitmen untuk mengatasi kendala tersebut melalui kolaborasi dengan kementerian terkait, penyedia layanan internet, dan lembaga keuangan. Pemerintah menargetkan peningkatan partisipasi digital UMKM sebesar 30% dalam dua tahun ke depan, dengan fokus pada pemberdayaan perempuan sebagai motor penggerak ekonomi inklusif.