Unair Surabaya Temukan 79 Data Peserta Anomali di UTBK-SNBT 2026

LintasWarganet.com – 21 April 2026 | Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya mengumumkan temuan penting terkait seleksi masuk perguruan tinggi nasional pada tahun 2026. Tim riset data kampus menemukan sebanyak 79 entri peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer – Seleksi Nasional Berdasar Tes (UTBK‑SNBT) yang menunjukkan pola anomali.

Jenis anomali yang terdeteksi meliputi:

  • Indikasi penggunaan joki, yaitu seseorang yang mengisi jawaban atas nama peserta lain.
  • Ketidaksesuaian lokasi ujian yang tercatat dengan tempat fisik pelaksanaan, menimbulkan dugaan manipulasi data geografis.
  • Waktu pengerjaan yang tidak realistis, seperti selisih menit yang terlalu singkat dibandingkan rata‑rata waktu pengerjaan soal.

Proses identifikasi dilakukan dengan menggabungkan data log server, metadata perangkat, serta analisis statistik pola jawaban. Tim menggunakan algoritma deteksi outlier untuk menyoroti nilai‑nilai yang berada di luar distribusi normal.

Berikut contoh ringkas hasil temuan:

No Nomor Peserta Jenis Anomali Keterangan
1 2026001234 Joki Jawaban lengkap dalam 5 menit
2 2026005678 Lokasi IP tercatat di luar provinsi asal
3 2026012345 Waktu Durasi 2 menit untuk 150 soal

Setelah temuan tersebut, pihak Unair melaporkan hasilnya kepada Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kedua lembaga diharapkan akan melakukan verifikasi lanjutan serta memberi sanksi bila terbukti melanggar aturan.

Reaksi mahasiswa dan publik cukup beragam. Sebagian menilai langkah Unair penting untuk menjaga integritas seleksi nasional, sementara yang lain meminta transparansi lebih lanjut tentang metode deteksi yang dipakai.

Jika terbukti, pelaku joki dapat dikenai sanksi administratif hingga pembatalan hasil UTBK‑SNBT, serta konsekuensi hukum sesuai peraturan yang berlaku. Pemerintah berkomitmen meningkatkan keamanan sistem ujian digital, termasuk penggunaan autentikasi biometrik dan pemantauan jaringan secara real‑time.

Penemuan ini menambah catatan penting bagi upaya memerangi kecurangan dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi, sekaligus menegaskan perlunya kolaborasi antara institusi akademik, lembaga penyelenggara tes, dan regulator untuk menjamin keadilan bagi seluruh calon mahasiswa.