Kapal Minyak China Keluar Selat Hormuz, Beijing Ucapkan Terima Kasih kepada Iran di Tengah Ancaman Blokade AS
Kapal Minyak China Keluar Selat Hormuz, Beijing Ucapkan Terima Kasih kepada Iran di Tengah Ancaman Blokade AS

Kapal Minyak China Keluar Selat Hormuz, Beijing Ucapkan Terima Kasih kepada Iran di Tengah Ancaman Blokade AS

LintasWarganet.com – 14 April 2026 | Sejumlah supertanker milik perusahaan asal China berhasil menembus jalur alternatif Selat Hormuz pada minggu ini, membawa ratusan ribu barel minyak mentah dari Timur Tengah menuju pelabuhan-pelabuhan utama di Asia. Keberhasilan ini terjadi bersamaan dengan gencatan senjata tidak resmi antara Amerika Serikat dan Iran, serta upaya diplomatik Beijing yang secara terbuka menyampaikan rasa terima kasih kepada Tehran atas kemudahan akses laut yang diberikan.

Supertrankernya Siapa dan Dari Mana Mereka Berasal

Ketiga kapal yang berhasil keluar dari Selat Hormuz adalah Serifos, Cospearl Lake, dan He Rong Hai. Masing‑masing mampu mengangkut hingga dua juta barel minyak. Serifos disewa oleh perusahaan energi Thailand PTT dan mengangkut minyak mentah dari Arab Saudi serta Uni Emirat Arab, diperkirakan tiba di Pelabuhan Malaka, Malaysia pada 21 April. Cospearl Lake membawa minyak Irak dan dijadwalkan tiba di pelabuhan Zhoushan, China pada 1 Mei. Sementara He Rong Hai mengangkut minyak Arab Saudi, namun tujuan akhir masih belum dikonfirmasi.

Selain tiga kapal tersebut, terdapat pula kapal Ocean Thunder yang melintasi selat pekan lalu, serta beberapa tanker kosong seperti Mombasa B, Agios Fanourios I, dan Shalamar yang bersiap mengisi muatan minyak dari Irak dan negara produsen lain.

Strategi Jalur Alternatif dan Kontrol Iran

Ketiga supertanker menempuh rute alternatif yang menghindari Pulau Larak, zona sensitif yang biasanya diawasi ketat oleh pasukan Iran. Jalur ini dipilih untuk mengurangi risiko konfrontasi dengan kapal perang atau sistem pertahanan udara di sekitar selat. Iran sendiri mengklaim tetap menguasai kontrol penuh atas Selat Hormuz, namun dalam praktiknya memberikan toleransi bagi kapal-kapal komersial yang melintas, terutama yang membawa muatan penting bagi pasar energi dunia.

Reaksi Beijing dan Ungkapan Terima Kasih

Pemerintah China, melalui Kementerian Luar Negeri, menyampaikan apresiasi resmi kepada Iran atas “dukungan logistik dan keamanan” yang memungkinkan kapal-kapal China melanjutkan perjalanan. Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kerja sama bilateral dalam menjaga stabilitas pasokan energi, mengingat sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, dengan China menjadi salah satu importir terbesar.

Beijing menekankan bahwa stabilitas jalur pelayaran merupakan kepentingan bersama, dan menolak setiap upaya yang dapat mengganggu aliran minyak, termasuk rencana blokade yang dibicarakan oleh Amerika Serikat.

Rencana Blokade AS dan Dampaknya

Dalam beberapa pekan terakhir, pejabat militer AS mengumumkan rencana untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, termasuk Bandar Abbas dan Jask, sebagai respons terhadap ancaman keamanan dan dugaan pelanggaran perjanjian non‑proliferasi. Meski secara teknis memungkinkan, langkah tersebut diperkirakan membawa risiko militer, hukum, serta ekonomi yang signifikan. AS berencana mengandalkan satelit dan intelijen lain untuk mendeteksi kapal yang keluar dari pelabuhan Iran, bahkan bila kapal tersebut mematikan sistem AIS.

Iran menolak keras rencana blokade, menyebutnya sebagai “pembajakan maritim”. Tehran mengancam akan mengambil tindakan balasan terhadap pelabuhan negara-negara Teluk Arab yang dianggap bersekongkol dengan Washington. Di sisi lain, China dan Rusia, yang memiliki hubungan erat dengan Tehran, menyatakan kesiapan melindungi kapal-kapal mereka bila diperlukan, meningkatkan potensi konfrontasi langsung di laut.

Dampak Ekonomi Global

Jika blokade terwujud, ekspor minyak Iran – yang mencapai sekitar 1,7‑1,8 juta barel per hari – akan terhambat, menambah tekanan pada pasar energi dunia. Harga minyak mentah diproyeksikan naik, mengingat sebagian besar pasokan Asia, termasuk China, bergantung pada aliran melalui Selat Hormuz. Namun, pemulihan jalur pipa Petroline di Arab Saudi yang mampu memompa hingga 7 juta barel per hari memberikan sedikit penyangga bagi pasar, meski tidak sepenuhnya menggantikan peran Selat Hormuz.

Secara keseluruhan, keberhasilan kapal minyak China melintasi Selat Hormuz menegaskan peran strategis jalur laut tersebut dalam rantai pasok energi global. Sementara itu, ketegangan antara AS dan Iran serta kebijakan blokade yang dipertimbangkan tetap menjadi faktor ketidakpastian yang dapat memengaruhi stabilitas harga dan pasokan minyak dalam beberapa bulan mendatang.

Dengan diplomasi yang terus bergerak dan aksi militer yang masih berpotensi meningkat, dunia energi akan terus memantau perkembangan di Selat Hormuz, menunggu apakah jalur laut ini tetap terbuka atau akan terpaksa digantikan oleh alternatif darat dan laut lainnya.