LintasWarganet.com – 12 April 2026 | Surya Vandiantara, ekonom terkemuka dari Muhammadiyah, menilai bahwa wacana pemakzulan Presiden Prabowo Subianto tidak sesuai dengan realitas politik Indonesia saat ini. Ia menyoroti perbedaan mendasar antara dinamika politik tahun 1998 dengan kondisi yang terjadi pada pemerintahan Prabowo.
Ia menambahkan bahwa upaya pemakzulan yang beredar di media sosial dan beberapa kelompok politik lebih bersifat retoris daripada berbasis data konkret. “Kita tidak dapat menyamakan situasi ekonomi yang kacau pada 1998 dengan tantangan yang dihadapi pemerintah saat ini,” ujar Vandiantara dalam sebuah wawancara.
Berikut beberapa poin perbandingan yang disampaikan oleh Vandiantara:
- Stabilitas Ekonomi: Tahun 1998 terjadi krisis moneter yang menurunkan nilai tukar Rupiah secara drastis; kini nilai tukar relatif stabil.
- Inflasi: Inflasi pada 1998 mencapai lebih dari 70%, sedangkan pada 2024 berada di kisaran 3-4%.
- Ketegangan Sosial: 1998 ditandai dengan aksi massa, pengeboman, dan kerusuhan; saat ini tidak ada indikasi serupa.
- Legitimasi Pemerintahan: Prabowo terpilih melalui proses demokratis yang diawasi oleh Komisi Pemilihan Umum, berbeda dengan transisi kekuasaan pada 1998 yang melibatkan tekanan militer.
Vandiantara juga mengingatkan bahwa narasi pemakzulan dapat menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara jika tidak didukung oleh bukti kuat. Ia menekankan pentingnya dialog konstruktif antara pemerintah dan oposisi, serta mengedepankan solusi berbasis kebijakan ekonomi yang inklusif.
Secara keseluruhan, ekonom Muhammadiyah menilai bahwa perbandingan dengan situasi 1998 tidak hanya tidak tepat, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketegangan yang tidak produktif bagi bangsa.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet