AS Klaim Dua Kapal Perangnya Lewati Selat Hormuz, Iran Membantah
AS Klaim Dua Kapal Perangnya Lewati Selat Hormuz, Iran Membantah

AS Klaim Dua Kapal Perangnya Lewati Selat Hormuz, Iran Membantah

LintasWarganet.com – 12 April 2026 | Militer Amerika Serikat mengumumkan bahwa dua kapal perang, USS Frank E. Peterson (DDG-111) dan USS Michael Murphy (DDG-112), telah memasuki Selat Hormuz dalam rangka melakukan operasi pembersihan ranjau yang diduga dipasang oleh Iran. Menurut pernyataan resmi Pentagon, langkah ini merupakan respons terhadap ancaman keamanan di jalur laut yang menjadi salah satu titik strategis perdagangan minyak dunia.

Iran menolak tuduhan tersebut. Pihak berwenang Teheran menyatakan tidak ada bukti bahwa kapal-kapal AS pernah melintasi Selat Hormuz pada saat itu, serta menegaskan bahwa operasi pembersihan ranjau tidak pernah diminta atau diizinkan oleh mereka. Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, aksi tersebut merupakan tindakan provokatif yang dapat meningkatkan risiko konfrontasi militer di kawasan.

Fakta-fakta utama

  • Nama kapal: USS Frank E. Peterson (DDG-111) dan USS Michael Murphy (DDG-112).
  • Tujuan operasi: Pembersihan ranjau laut yang diduga dipasang Iran di perairan Selat Hormuz.
  • Pernyataan AS: Operasi dimulai sebagai bagian dari upaya menjaga kebebasan navigasi dan melindungi kapal dagang.
  • Pernyataan Iran: Membantah keberadaan kapal AS di selat dan menuduh tindakan tersebut sebagai provokasi.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi jalur utama bagi sekitar tiga persen perdagangan minyak global. Karena letaknya yang sempit, setiap gangguan dapat menimbulkan dampak signifikan pada pasar energi dunia.

Ketegangan antara kedua negara telah lama menjadi sorotan, terutama setelah serangkaian insiden militer di wilayah tersebut pada beberapa tahun terakhir. Pemerintah AS menegaskan komitmennya untuk memastikan kebebasan berlayar, sementara Iran menuduh Amerika berusaha memperluas kehadiran militernya di kawasan Teluk.

Para pengamat menilai bahwa pernyataan berlawanan ini dapat memicu eskalasi diplomatik. Namun, kedua belah pihak juga menunjukkan keengganan untuk terjun ke konflik terbuka, mengingat konsekuensi ekonomi dan keamanan regional yang luas.