LintasWarganet.com – 11 April 2026 | Kawasan Pahandut Seberang di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, terus menjadi pusat produksi jukung tradisional, yang lebih dikenal dengan sebutan perahu klotok. Meskipun arus modernisasi membawa mesin motor dan kapal fiberglass, para pengrajin lokal tetap setia pada teknik kayu yang telah diwariskan secara turun‑temurun.
Sejak dekade 1990-an, lebih dari 150 rumah produksi tersebar di sepanjang Sungai Kapuas, menghasilkan sekitar 1.200 unit klotok per tahun. Produk‑produk ini melayani kebutuhan transportasi penumpang, angkutan barang, serta wisata budaya bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berlayar di perairan Kalimantan.
Berbagai tantangan mengancam kelangsungan usaha ini:
- Kenaikan harga bahan baku kayu: Hutan yang semakin terbatas memaksa para pembuat perahu mencari kayu impor yang lebih mahal.
- Persaingan dengan kapal bermesin: Penumpang dan pedagang cenderung memilih transportasi yang lebih cepat dan tidak bergantung pada arus sungai.
- Minimnya generasi muda: Anak‑anak muda lebih tertarik pada pekerjaan di sektor formal, sehingga keahlian tradisional berisiko punah.
Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan telah meluncurkan program pelatihan kembali, menyediakan subsidi kayu lokal, serta mengadakan pameran tahunan untuk mempromosikan nilai budaya klotok. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pengrajin dan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan warisan maritim.
Selain nilai ekonomi, perahu klotok menjadi simbol identitas budaya Palangka Raya. Setiap ukiran pada badan kapal mengandung motif khas Dayak yang menceritakan legenda sungai, memperkuat rasa kebanggaan lokal. Dengan sinergi antara dukungan pemerintah, pasar wisata, dan komitmen komunitas, sentra Pahandut Seberang berpotensi tetap relevan meski era modernisasi terus maju.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet