Paus Leo Menyindir Trump: Doa Penguasa Perang Tak Didengar Tuhan, Pentagon Mengancam Vatikan
Paus Leo Menyindir Trump: Doa Penguasa Perang Tak Didengar Tuhan, Pentagon Mengancam Vatikan

Paus Leo Menyindir Trump: Doa Penguasa Perang Tak Didengar Tuhan, Pentagon Mengancam Vatikan

LintasWarganet.com – 11 April 2026 | JAKARTA — Ketegangan antara Tahta Suci dan Gedung Putih memuncak usai Paus Leo XIV mengkritik keras kebijakan militer Amerika Serikat yang memicu konflik di Timur Tengah. Dalam pidato tahunan tentang keadaan dunia, Paus menegaskan bahwa “Tuhan menolak doa orang‑orang yang memicu perang,” sebuah sindiran tajam yang ditujukan kepada pemerintahan Presiden Donald Trump yang sejak Februari lalu terlibat dalam serangan militer bersama Israel ke wilayah Iran.

Latar Belakang Kritik Paus

Paus Leo, pemimpin Katolik asal Amerika, menyoroti “semangat perang yang meluas” dan kegagalan diplomasi dalam menegakkan perdamaian. Ia menuduh kebijakan luar negeri AS yang mengandalkan kekuatan militer mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan. Pernyataan tersebut disampaikan pada minggu Paskah, saat ribuan umat berkumpul di Basilika Santo Petrus, dan segera menjadi sorotan internasional.

Pertemuan PentagonVatican

Tak lama setelah pidato itu, sejumlah pejabat tinggi Pentagon mengadakan pertemuan tertutup dengan Kardinal Christophe Pierre, Nuncio Apostolik untuk Amerika Serikat. Menurut laporan media, pertemuan itu dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan bidang kebijakan, Elbridge Colby, yang menekankan bahwa Vatikan seharusnya “berpihak pada Amerika Serikat karena Washington memiliki kekuatan militer yang dapat melakukan apa saja yang diinginkan di dunia.”

Dalam pertemuan tersebut, salah satu pejabat Pentagon mengangkat kembali isu Kepausan Avignon, masa ketika kepausan berada di bawah kontrol raja Prancis pada Abad Pertengahan, sebagai peringatan historis bahwa intervensi politik dapat mengancam kedaulatan religius.

Pentagon kemudian mengonfirmasi adanya pertemuan, namun menegaskan bahwa dialog berlangsung “dengan hormat dan masuk akal.” Juru bicara Pentagon menolak bahwa pertemuan tersebut bersifat mengancam, menyatakan bahwa laporan mengenai ketegangan “dilebih‑lebi­hkan dan didistorsi.”

Reaksi Pemerintah Trump

Pemerintahan Trump, khususnya Menteri Pertahanan Pete Hegseth, menanggapi kritik Paus dengan kemarahan terbuka. Dalam beberapa pernyataan, pejabat senior Pentagon dikabarkan “sangat marah” terhadap apa yang mereka anggap intervensi moral yang tidak relevan dengan kebijakan keamanan nasional. Sebagai akibatnya, rencana kunjungan Paus Leo ke Washington dibatalkan, menandai penurunan hubungan diplomatik yang belum pernah terjadi sejak era Perang Dingin.

Dampak terhadap Hubungan Diplomatik

Ketegangan ini menambah daftar panjang perselisihan antara AS dan Vatikan, termasuk perbedaan pandangan tentang perubahan iklim, hak asasi manusia, dan kebijakan imigrasi. Namun, yang paling menonjol adalah perbedaan fundamental tentang peran militer dalam menyelesaikan konflik. Sementara AS menekankan keunggulan kekuatan bersenjata, Tahta Suci menekankan dialog dan perdamaian.

Sejak 28 Februari, konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menelan ribuan korban, termasuk kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Operasi militer tersebut menimbulkan kecaman internasional dan menambah beban diplomatik bagi Washington. Kritik Paus yang menyinggung “doa orang‑orang yang berperang tidak didengar Tuhan” menambah tekanan moral pada kebijakan Trump.

Analisis dan Prospek Ke Depan

Para pengamat politik menilai bahwa ketegangan ini dapat memicu perubahan dalam strategi diplomasi Amerika. Jika Trump tetap mengedepankan kebijakan militer, hubungan dengan Vatikan kemungkinan akan tetap tegang. Sebaliknya, tekanan publik domestik dan internasional dapat memaksa pemerintah AS mempertimbangkan jalur dialog yang lebih inklusif.

Di sisi lain, Vatikan diperkirakan akan memperkuat peran moralnya di panggung internasional, meskipun tanpa dukungan langsung dari kekuatan militer. Paus Leo XIV diprediksi akan terus menekankan pentingnya perdamaian, mengingat peranannya sebagai pemimpin spiritual bagi lebih dari satu miliar umat Katolik.

Ketegangan ini menegaskan kembali betapa eratnya hubungan antara kebijakan luar negeri dan nilai‑nilai moral dalam politik global. Dengan konflik di Timur Tengah yang masih berlanjut, pertarungan antara suara militer dan suara moral kemungkinan akan terus mempengaruhi arah kebijakan internasional dalam beberapa tahun mendatang.