Trump Bercanda Ambil Minyak Iran: Ancaman Militer Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia
Trump Bercanda Ambil Minyak Iran: Ancaman Militer Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Trump Bercanda Ambil Minyak Iran: Ancaman Militer Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

LintasWarganet.com – 07 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan internasional setelah mengungkapkan keinginannya secara terbuka untuk menggunakan kekuatan militer Amerika dalam mengambil cadangan minyak Iran. Pernyataan tersebut disampaikan pada acara White House Easter Egg Roll pada Senin 7 April 2026, ketika ia dan Ibu Negara Melania Trump menjadi tuan rumah acara tradisional tersebut.

“Ambil minyak itu karena memang tersedia untuk diambil,” ujar Trump kepada wartawan, menambahkan bahwa ia akan menyimpan minyak tersebut dan “menghasilkan banyak uang” bagi Amerika. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada pihak yang dapat menghentikannya, meski ia mengakui kurangnya dukungan publik di dalam negeri.

Ancaman Kasar dan Ultimatum kepada Tehran

Beberapa hari sebelumnya, Trump memposting di platform media sosialnya, Truth Social, sebuah peringatan keras kepada Iran. Ia menuntut agar Iran membuka Selat Hormuz sebelum batas waktu yang ditetapkan pada hari Selasa, dan mengancam akan menargetkan infrastruktur kritis negara itu, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. Pada unggahan tersebut, ia menutup dengan frasa “Segala puji bagi Allah,” serta menegaskan penggunaan bahasa kasar “hanya untuk menyampaikan maksud saya.”

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump menyatakan adanya peluang kesepakatan dengan Tehran pada Senin, namun menambahkan bahwa bila kesepakatan tidak tercapai, ia masih mempertimbangkan untuk “meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak Iran.”

Dampak pada Pasar Minyak Global

Reaksi pasar tidak memerlukan waktu lama. Pada Senin 6 April 2026, harga minyak mentah Brent naik 0,7 % menjadi US$109,80 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8 % menjadi US$112,40 per barel. Kenaikan tersebut mendorong harga minyak dunia menembus US$110 per barel untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan.

  • Brent: US$109,80/barel (+0,7 %).
  • WTI: US$112,40/barel (+0,8 %).
  • Harga emas turun 1 % ke US$4.630 per ons.
  • Harga perak turun 1,5 % ke US$72 per ons.

Pengaruhnya terasa di bursa Asia: indeks Nikkei Jepang naik 1,65 %, indeks Kospi Korea Selatan naik 2 %, dan indeks BSE Sensex India menguat 0,25 %. Sementara itu, pasar di Australia, Selandia Baru, dan Hong Kong tutup karena perayaan Paskah, dan China serta Taiwan merayakan Festival Qingming.

Reaksi Dalam Negeri dan Internasional

Di Amerika Serikat, pernyataan Trump menuai kritik tajam dari kalangan politikus dan analis pertahanan. Banyak yang menilai bahwa ancaman militer terhadap Iran dapat menimbulkan eskalasi konflik di Teluk Persia, mengganggu jalur pengiriman minyak yang sudah rentan. Di sisi lain, pendukung Trump berargumen bahwa kontrol langsung atas cadangan minyak Iran dapat memperkuat keamanan energi nasional.

Di tingkat internasional, negara‑negara sekutu Amerika menanggapi dengan hati‑hati. Beberapa pemerintah mengingatkan bahwa penggunaan kekuatan militer untuk mengambil sumber daya alam melanggar norma internasional dan dapat memicu sanksi tambahan terhadap AS.

Analisis Kebijakan dan Prospek Ke Depan

Jika Trump melanjutkan rencananya, Amerika akan menghadapi tantangan logistik yang signifikan, termasuk kebutuhan untuk menempatkan pasukan, mengamankan fasilitas produksi, serta mengelola distribusi minyak yang diambil. Selain itu, tindakan semacam itu dapat memicu balasan militer dari Iran atau sekutu regionalnya, memperburuk ketegangan geopolitik.

Di pasar keuangan, volatilitas harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi selama ketidakpastian kebijakan. Investor mungkin akan menyesuaikan portofolio mereka dengan menambah eksposur pada energi, namun juga mempertimbangkan risiko geopolitik yang meningkat.

Kesimpulannya, pernyataan Trump yang mengusulkan penggunaan militer AS untuk menguasai minyak Iran tidak hanya menimbulkan perdebatan politik domestik, tetapi juga menggerakkan pasar energi global ke arah yang lebih tidak stabil. Dampaknya akan tergantung pada keputusan selanjutnya—apakah Washington akan memilih diplomasi, sanksi ekonomi, atau aksi militer—dan pada respons Iran serta komunitas internasional.