Tokoh Muhammadiyah Dorong Kampus Indonesia Belajar Teknologi Persenjataan ke Iran
Tokoh Muhammadiyah Dorong Kampus Indonesia Belajar Teknologi Persenjataan ke Iran

Tokoh Muhammadiyah Dorong Kampus Indonesia Belajar Teknologi Persenjataan ke Iran

LintasWarganet.com – 04 April 2026 | Prof. Din Syamsuddin, tokoh senior Muhammadiyah, menyampaikan usulan agar perguruan tinggi di Indonesia memperluas kerja sama akademik dengan Republik Islam Iran, termasuk dalam bidang teknologi persenjataan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah forum yang dihadiri para akademisi, pejabat kementerian, dan perwakilan industri pertahanan pada hari Rabu, 3 April 2024 di Jakarta.

Beberapa poin utama yang diusulkan meliputi:

  • Pembukaan program pertukaran dosen dan mahasiswa teknik militer antara universitas Indonesia dan institusi pertahanan Iran.
  • Pengembangan riset bersama dalam bidang balistik, elektronik militer, serta sistem senjata tidak mematikan.
  • Penyediaan fasilitas laboratorium dan simulasi yang dapat diakses oleh kedua belah pihak.
  • Penyusunan kurikulum khusus yang mengintegrasikan aspek etika, hukum humaniter internasional, dan kebijakan pertahanan.

Reaksi dari kalangan akademisi beragam. Sebagian besar mengapresiasi peluang belajar teknologi tinggi yang selama ini sulit diakses, sementara yang lain mengingatkan perlunya transparansi dan kepatuhan pada regulasi ekspor teknologi senjata yang diatur oleh rezim internasional.

Pemerintah Indonesia belum memberikan respons resmi, namun Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi diperkirakan akan meninjau proposal tersebut dalam rapat koordinasi antar kementerian. Di sisi lain, Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa segala bentuk kerja sama harus melalui prosedur yang ketat dan tidak melanggar sanksi internasional.

Jika direalisasikan, kerjasama ini dapat membuka jalur baru bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi pada inovasi pertahanan, sekaligus memperkuat hubungan bilateral Indonesia‑Iran di bidang strategis. Namun, keberhasilan implementasinya sangat tergantung pada kepastian kebijakan, dukungan pendanaan, dan pengawasan yang ketat.