220 Siswa di Nagan Raya Masih Belajar di Tenda Darurat
220 Siswa di Nagan Raya Masih Belajar di Tenda Darurat

220 Siswa di Nagan Raya Masih Belajar di Tenda Darurat

LintasWarganet.com – 04 April 2026 | Di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, sebanyak 220 murid Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih harus menjalani proses pembelajaran di dalam tenda darurat. Kondisi ini terjadi setelah bangunan utama sekolah mengalami kerusakan parah akibat bencana alam yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun lalu.

Kerusakan pada atap, dinding, dan lantai mengakibatkan seluruh ruangan kelas tidak layak pakai. Pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan setempat belum dapat menyelesaikan renovasi secara cepat, sehingga penempatan sementara di tenda menjadi satu-satunya alternatif agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti.

Berikut beberapa dampak yang dirasakan oleh siswa, guru, dan orang tua:

  • Lingkungan belajar yang tidak optimal: Tenda yang terletak di lapangan terbuka sering terpapar panas, hujan, dan angin kencang, menyulitkan konsentrasi siswa.
  • Keterbatasan fasilitas: Tidak tersedia papan tulis permanen, ruang laboratorium, atau perpustakaan, sehingga materi praktis sulit disampaikan.
  • Kesehatan dan keamanan: Risiko penyakit akibat cuaca serta kurangnya perlindungan fisik menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua.

Guru-guru di sekolah tersebut berupaya menyesuaikan metode pengajaran. Mereka menggunakan media pembelajaran digital yang dapat diakses melalui perangkat seluler, serta mengoptimalkan kegiatan belajar kelompok di dalam tenda untuk meminimalkan kebisingan dan gangguan.

Pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya menyatakan bahwa proses perbaikan gedung sekolah sudah dimasukkan dalam prioritas anggaran tahun ini. Namun, karena prosedur perizinan, pengadaan material, dan tenaga kerja memerlukan waktu, estimasi penyelesaian diperkirakan memakan waktu enam bulan ke depan.

Sebagai upaya pendukung, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan donatur lokal telah menyumbangkan perlengkapan belajar seperti buku, alat tulis, serta tenda tambahan yang lebih kuat. Selain itu, program beasiswa transportasi untuk siswa yang tinggal jauh dari lokasi tenda juga sedang dipersiapkan.

Para orang tua berharap agar proses pembangunan kembali dapat dipercepat agar anak-anak mereka kembali belajar di lingkungan yang lebih aman dan nyaman. Sementara itu, mereka terus memotivasi anak-anak untuk tetap semangat belajar meski dalam kondisi yang serba terbatas.