LintasWarganet.com – 04 April 2026 | Jordi Amat, bek senior yang kini berusia 34 tahun, mengungkapkan rasa puasnya terhadap pendekatan taktis baru yang dibawa oleh pelatih asal Inggris, John Herdman, ke Timnas Indonesia. Perubahan peran Amat dari bek tengah tradisional menjadi gelandang bertahan menjadi sorotan utama dalam turnamen FIFA Series 2026, sekaligus menimbulkan perbandingan tak terhindarkan dengan dinamika yang pernah ia alami bersama Persija Jakarta.
Peran Baru Amat di Timnas Indonesia
Pada laga pembuka turnamen melawan St Kitts and Nevis di Stadion Gelora Bung Karno, Amat tampil sebagai starter dan membantu tim meraih kemenangan telak 4‑0. Di bawah arahan Herdman, ia ditugaskan mengisi ruang di lini tengah defensif, sebuah posisi yang menuntut kemampuan membaca permainan, mengatur tempo, serta menyalurkan bola ke lini serang.
“Bermain sebagai gelandang adalah tantangan. Setiap hari saya belajar hal baru, itu sangat menarik,” ujar Amat dalam sebuah wawancara resmi Persija Jakarta. Ia menekankan bahwa perubahan ini bukan sekadar eksperimen pribadi, melainkan bagian dari strategi fleksibilitas taktik yang ingin diterapkan Herdman.
Strategi John Herdman: Rotasi Pemain dan Naturaliasi
John Herdman, yang baru pertama kali memimpin Timnas Indonesia pada FIFA Series 2026, mengandalkan rotasi cerdas untuk mengatasi kelelahan pemain yang berkarier di luar negeri. Pada pertandingan pertama, ia menurunkan pemain naturalisasi yang aktif di BRI Super League, seperti Ivar Jenner, Eliano Reijnders, dan Mauro Zijlstra, untuk menjaga keseimbangan fisik tim.
Rotasi ini terbukti efektif ketika tim kembali menurunkan skuad utama pada laga melawan Bulgaria, menampilkan pemain abroad yang telah cukup istirahat. Herdman juga melakukan pergantian posisi kiper, mengalihkan peran dari Maarten Paes ke Emil Audero, serta menempatkan pemain seperti Joey Pelupessy, Nathan Tjoe‑A‑On, dan Ragnar Oratmangoen sejak menit awal.
Kesamaan dengan Persija Jakarta
Pengalaman Amat di Persija Jakarta selama beberapa musim terakhir memberikan konteks tambahan terhadap adaptasinya di Timnas. Di Persija, ia pernah diminta berperan sebagai gelandang bertahan dalam skema yang menekankan konektivitas antar lini, mirip dengan filosofi Herdman yang menekankan “banyak koneksi antar lini”.
“Kami mencoba bermain sepak bola dengan versi terbaik dan membangun banyak koneksi antar lini,” kata Amat, mengingat kembali masa-masa di Jakarta. Kesamaan taktik ini menegaskan bahwa perubahan peran Amat bukan sekadar keputusan taktis sesaat, melainkan hasil evolusi pemikiran sepak bola modern yang telah ia alami di klub domestik.
Statistik dan Dampak di Turnamen
- Caps Timnas Indonesia: 20 penampilan
- Gol Timnas: 2 gol
- Posisi utama dalam FIFA Series 2026: gelandang bertahan (starter pada 2 pertandingan)
- Rotasi pemain naturalisasi: 5 pemain utama diganti dalam dua laga penting
Statistik ini menunjukkan bahwa Amat tidak hanya menambah dimensi defensif, tetapi juga berkontribusi secara ofensif melalui distribusi bola yang lebih baik. Kombinasi antara pengalaman klub (Persija) dan adaptasi taktik Herdman menghasilkan peningkatan kontrol permainan Timnas Indonesia, terutama dalam mengatasi tekanan lawan dan menjaga kestabilan lini tengah.
Reaksi Publik dan Analisis Pakar
Pengamat sepak bola asal Malang, Gusnul Yakin, menilai bahwa “sejak era Shin Tae‑yong hingga Patrick Kluivert, kebugaran pemain abroad menjadi kendala. Herdman tampaknya telah menemukan cara mengelola stamina melalui rotasi pemain naturalisasi, dan penggunaan Amam sebagai gelandang bertahan memperkuat struktur tim.”
Para pendukung Timnas Indonesia menyambut baik perubahan ini, menilai bahwa fleksibilitas taktik Herdman memberi ruang bagi pemain veteran seperti Amat untuk memperluas skill set mereka, sekaligus memberi peluang bagi generasi muda untuk belajar dari contoh praktis.
Secara keseluruhan, kolaborasi antara Jordi Amat dan John Herdman menandai fase baru bagi Timnas Indonesia, di mana pengalaman klub domestik, strategi rotasi pemain, dan inovasi taktik bersinergi untuk menciptakan tim yang lebih adaptif dan kompetitif di panggung internasional.
Ke depan, harapan besar tetap menggantung pada kemampuan tim dalam mempertahankan konsistensi performa, mengoptimalkan peran pemain naturalisasi, dan terus mengintegrasikan pemain veteran ke dalam skema taktis modern. Jika tren ini berlanjut, Timnas Indonesia berpotensi menjadi kekuatan yang lebih solid dan berdaya saing di kompetisi regional maupun dunia.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet