Kirim 60 Lamaran, Hanya Sedikit Direspons: AI Bikin Lulusan Baru Susah Dapat Kerja?
Kirim 60 Lamaran, Hanya Sedikit Direspons: AI Bikin Lulusan Baru Susah Dapat Kerja?

Kirim 60 Lamaran, Hanya Sedikit Direspons: AI Bikin Lulusan Baru Susah Dapat Kerja?

LintasWarganet.com – 20 Juli 2026 | Kirim 60 lamaran, hanya sedikit direspons: AI bikin lulusan baru susah dapat kerja? Kirim 60 lamaran, hanya sedikit direspons: AI bikin lulusan baru susah dapat kerja? Pekerjaan tingkat pemula menjadi tempat lulusan baru mempelajari keterampilan, memperoleh pengalaman, dan membangun jenjang karier. Namun, perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membuat pekerjaan-pekerjaan tersebut menjadi semakin sulit dijangkau. Menurut Gubernur Federal Reserve, Michael S Barr, ada indikasi bahwa AI telah membuat sebagian pekerja muda semakin sulit memperoleh pekerjaan pertama. "Saat ini hanya ada sedikit bukti mengenai hilangnya pekerjaan akibat AI di seluruh perekonomian," kata Barr dalam konferensi inklusi keuangan yang diselenggarakan Federal Reserve Board pada Selasa, 14 Juli 2026. Namun, ia menambahkan, terdapat bukti bahwa AI mungkin telah mempersulit pekerja muda memasuki sejumlah kategori pekerjaan.

Perhatian The Fed terhadap AI sebenarnya telah terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Gubernur The Fed Lisa Cook pada 24 Februari 2026 mengatakan permintaan tenaga kerja telah menurun dalam sejumlah pekerjaan, terutama pemrogram komputer, bidang yang mengalami kemajuan AI paling pesat. Cook juga mencatat tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi baru meningkat ketika sebagian perusahaan mulai menggunakan AI untuk mengerjakan tugas-tugas yang sebelumnya diberikan kepada pekerja pemula. Namun, ia menegaskan dampak AI terhadap pasar kerja secara keseluruhan belum dapat dipastikan.

Baca juga:

Menurut Cook, dunia kemungkinan sedang mendekati reorganisasi pekerjaan terbesar dalam beberapa generasi. Pekerjaan yang hilang akibat AI dapat muncul lebih dahulu sebelum pekerjaan-pekerjaan baru tercipta. Hal ini membuat lulusan perguruan tinggi harus siap menghadapi tantangan baru dalam mencari pekerjaan.

Peneliti The Fed juga memperingatkan bahwa apabila AI menggantikan tugas-tugas yang biasanya diberikan kepada pekerja tingkat pemula, dampaknya bukan hanya berupa berkurangnya pekerjaan junior. Perusahaan juga berisiko menghilangkan proses pembelajaran di tempat kerja yang selama ini membantu pekerja muda mengembangkan kemampuan profesional. Dampaknya dapat berlangsung lebih panjang karena pekerja baru kehilangan kesempatan memperoleh pengalaman yang dibutuhkan untuk naik ke posisi yang lebih tinggi.

Apakah AI telah membuat lulusan baru susah dapat kerja? Jawabannya masih belum jelas. Namun, yang jelas adalah perkembangan teknologi ini telah membuat pekerjaan-pekerjaan tingkat pemula menjadi semakin sulit dijangkau. Lulusan perguruan tinggi harus siap menghadapi tantangan baru dalam mencari pekerjaan dan mengembangkan kemampuan profesional.