Trump Perluas Pencabutan Kewarganegaraan, Terbesar dalam Sejarah Amerika: Langkah Besar dalam Politik Imigrasi
Trump Perluas Pencabutan Kewarganegaraan, Terbesar dalam Sejarah Amerika: Langkah Besar dalam Politik Imigrasi

Trump Perluas Pencabutan Kewarganegaraan, Terbesar dalam Sejarah Amerika: Langkah Besar dalam Politik Imigrasi

LintasWarganet.com – 27 Juli 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengambil langkah besar dalam politik imigrasi dengan mempercepat upaya mencabut kewarganegaraan warga negara hasil naturalisasi melalui program denaturalisasi terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Departemen Kehakiman (DOJ) menargetkan sedikitnya 250 gugatan pencabutan kewarganegaraan diajukan ke pengadilan federal hingga Oktober 2026, meningkat tajam dibandingkan pemerintahan sebelumnya.

Baca juga:

Jika laju tersebut terus berlanjut, pemerintahan Trump akan mencatat jumlah kasus pencabutan kewarganegaraan tertinggi dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Sebagai perbandingan, pemerintahan Joe Biden hanya mengajukan 24 perkara selama empat tahun, sedangkan pada masa jabatan pertama Trump jumlahnya mencapai 102 perkara.

Di bawah hukum federal AS, kewarganegaraan dapat dicabut apabila pemerintah berhasil membuktikan bahwa status tersebut diperoleh melalui penipuan, penyampaian keterangan palsu, penggunaan identitas palsu, atau penyembunyian catatan kriminal yang semestinya membuat seseorang tidak memenuhi syarat menjadi warga negara Amerika.

Pemerintahan Trump menegaskan sasaran kebijakan tersebut adalah para pelaku kejahatan dan penipu yang dinilai tidak berhak memperoleh kewarganegaraan sejak awal.

Baca juga:

Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin mengatakan setiap orang yang melakukan penipuan dalam proses naturalisasi telah kehilangan hak mempertahankan status kewarganegaraan Amerika.

Langkah pemerintah berpotensi mengubah denaturalisasi, yang selama puluhan tahun hanya digunakan secara terbatas terhadap pelaku kejahatan perang, ancaman keamanan nasional, atau anggota organisasi teroris, menjadi instrumen penegakan hukum imigrasi yang jauh lebih luas.

Profesor hukum Case Western Reserve University, Cassandra Robertson, menyebut lonjakan perkara tersebut sebagai peningkatan yang belum pernah terlihat selama beberapa dekade.

Sementara itu, mantan pengacara DOJ Stacey Young menilai program tersebut kemungkinan tidak akan memberikan dampak besar terhadap target deportasi pemerintahan Trump karena proses denaturalisasi sangat panjang, mahal, dan membutuhkan pembuktian hukum yang kompleks.

Baca juga:

Di sisi lain, kondisi cuaca di Indonesia diprakirakan berawan tebal pada Senin (27/7/2026), dengan potensi hujan ringan di beberapa kota.

Prakirawan cuaca BMKG Diah mengatakan bahwa cuaca berawan hingga berawan tebal berpotensi terjadi di kota Banda Aceh, Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Palembang, Bandar Lampung, Serang, Jakarta, Bandung, Semarang, Pontianak, Palangkaraya, dan Banjarmasin.