LintasWarganet.com – 02 Juli 2026 | Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, yang akrab disapa Om Zein, telah meminta maaf kepada publik terkait lirik lagu ciptaannya yang berjudul ‘Lalaki Langit, Lalanang Bejat’. Permohonan maaf ini muncul setelah lagu tersebut menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk Lembaga Jabar Bantuan Hukum (JBH) yang menilai liriknya merendahkan martabat perempuan.
Kontroversi bermula ketika JBH mengajukan somasi terbuka melalui Surat Nomor 023/SOM/JBH/VII/2026, menyoroti beberapa penggalan lirik yang dianggap misoginis dan tidak mencerminkan nilai-nilai kesopanan. Ketua JBH, Riyan Bintana, menyatakan bahwa lirik tersebut mengandung narasi yang merendahkan derajat manusia, terutama kaum perempuan. Salah satu lirik yang menjadi sorotan berbunyi, ‘Cacak mun jadi awewe, SMP kelas tilu tos karuron tujuh kali’ yang diartikan sebagai, ‘Andai saja jadi perempuan, SMP kelas tiga sudah keguguran tujuh kali’.
Riyan menekankan bahwa lirik tersebut tidak hanya sekadar karya seni, namun juga memiliki dampak serius terhadap norma sosial. Ia menyatakan, “Diksi dan substansi dalam lagu ini jelas-jelas mendegradasi harkat dan martabat perempuan secara vulgar.” Dalam pandangan JBH, lagu yang diciptakan oleh seorang kepala daerah seharusnya menjadi panutan dan mencerminkan nilai-nilai positif dalam masyarakat.
Menanggapi somasi tersebut, Bupati Purwakarta Om Zein mengeluarkan pernyataan di mana ia secara pribadi meminta maaf kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menyinggung atau merendahkan siapapun, terutama perempuan. “Pertama-tama saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan tidak mendeskripsikan siapa pun dalam lagu itu,” ujarnya.
Om Zein mengungkapkan bahwa lagu tersebut ditulis pada tahun 2020, jauh sebelum ia menjabat sebagai bupati. Lagu itu berawal dari sebuah puisi yang dibuatnya saat masih berada dalam fase kehidupan yang dianggapnya nakal. “Saya berandalan saat itu, dan lagu ini adalah refleksi dari apa yang saya rasakan pada waktu itu,” tambahnya.
Setelah menerima kritik dan masukan, Bupati Purwakarta memutuskan untuk menghapus video klip lagu tersebut dari seluruh platform media sosial. Ia menekankan langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmennya untuk menjaga keharmonisan di masyarakat Purwakarta. “Saya menganggap kritikan ini sebagai bentuk kasih sayang dari masyarakat,” katanya. Dalam pernyataannya, ia juga berharap agar pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata yang digunakan dalam karya seni.
Kritik yang dilayangkan kepada Bupati Purwakarta Om Zein juga mendapat respons dari berbagai kalangan, termasuk politisi dari partai Gerindra yang menyesalkan kontroversi ini. Mereka menekankan pentingnya mempertimbangkan norma dan budaya lokal dalam setiap karya yang dipublikasikan, terlebih lagi jika itu berasal dari seorang pejabat publik.
Dengan langkah cepat ini, diharapkan polemik yang muncul dapat segera mereda dan masyarakat Purwakarta dapat kembali fokus pada hal-hal yang lebih konstruktif. Melalui kebijakan dan tindakan yang tepat, Om Zein ingin menunjukkan bahwa ia berkomitmen untuk menjadi pemimpin yang peka terhadap isu-isu sosial, terutama yang berkaitan dengan hak perempuan dan anak.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet