LintasWarganet.com – 09 Juli 2026 | Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah gencatan resmi berakhir! Perang AS–Iran pecah lagi hanya sehari jelang pemakaman Khamenei. Gelombang serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) ke sejumlah lokasi di Iran telah mengakibatkan setidaknya 14 orang tewas, termasuk anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah AS menghantam beberapa target di wilayah selatan Iran, yang menandakan bahwa upaya perundingan damai yang telah berlangsung tampaknya berada di ambang kegagalan.
Serangan terbaru ini dilaksanakan pada Kamis dini hari, bersamaan dengan prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel beberapa bulan lalu. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa nota kesepahaman mengenai gencatan senjata dengan Iran “pada dasarnya sudah berakhir” dan membuka kemungkinan untuk melanjutkan pembicaraan damai, meskipun situasi saat ini menunjukkan sebaliknya.
Dalam serangan yang dipimpin oleh Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), sekitar 90 target militer di Iran diserang, dengan tujuan melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Ini menjadi respons AS atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi selat tersebut. Iran pun tidak tinggal diam; mereka meluncurkan serangan balasan terhadap aset dan infrastruktur militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar rapat darurat untuk membahas situasi yang berkembang, mengingat ketegangan ini dapat berpotensi meluas ke konflik yang lebih besar. Meskipun pemerintah Israel memperkirakan bahwa perang skala penuh belum akan terjadi, mereka tetap berada dalam status siaga tinggi.
AS beralasan bahwa serangan ini merupakan langkah untuk memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap aman, di mana sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur itu. Namun, menurut beberapa analis, pernyataan Trump yang menyebut gencatan senjata sudah berakhir dapat menyebabkan konsekuensi yang lebih serius di kawasan tersebut.
Iran menanggapi dengan keras tindakan AS. Negosiator senior Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terhadap intimidasi Washington dan memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas. Ledakan dilaporkan terjadi di beberapa kota di Iran, termasuk di Bushehr, yang merupakan lokasi kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Serangan dan balasan ini menunjukkan bahwa gencatan resmi berakhir! Perang AS-Iran pecah lagi hanya sehari jelang pemakaman Khamenei bukan hanya sekedar konflik militer, tetapi juga berpotensi mengubah lanskap politik dan ekonomi di kawasan, serta mempengaruhi harga minyak global. Ketidakpastian ini membuat banyak pihak khawatir akan eskalasi yang lebih besar di Timur Tengah.
Dengan situasi yang semakin rumit, masa depan hubungan AS-Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah sangat tergantung pada bagaimana kedua belah pihak merespons provokasi ini. Sementara Trump optimis bahwa konflik ini tidak akan meluas, banyak pengamat meragukan pernyataan tersebut, mengingat sejarah panjang ketegangan antara kedua negara.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet