LintasWarganet.com – 07 Juli 2026 | Ekonomi tiga negara ASEAN bangkit, apa yang terjadi dengan Indonesia? [titlebase] Di tengah semarak pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang mengkhawatirkan. Vietnam dan Filipina baru saja dinyatakan naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas oleh Bank Dunia, sementara Indonesia justru menghadapi tantangan yang semakin berat.
Data terbaru menunjukkan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia telah kembali berada di zona kontraksi pada bulan Juni 2026. Selain itu, Indonesia juga mencatatkan defisit neraca perdagangan untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, dengan angka defisit mencapai $1,6 miliar. Hal ini sangat kontras dengan prestasi negara-negara tetangga, yang justru mengalami lonjakan dalam ekspor dan surplus perdagangan.
Vietnam, misalnya, mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7% pada tahun 2024 dan 8% pada tahun 2025, berkat model ekonomi yang berbasis ekspor yang kuat. Rata-rata pertumbuhan Pendapatan Nasional Bruto (GNI) Vietnam bahkan mencapai 10% per tahun antara 2021 dan 2025. Filipina pun tidak kalah, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 5,8% per tahun, didorong oleh peningkatan di semua sektor industri.
Malaysia juga mengalami lonjakan ekspor yang mencapai 45% secara tahunan, dengan surplus perdagangan bulanan mencapai rekor $9,8 miliar. Sementara itu, Indonesia mengalami penurunan ekspor, yang menunjukkan bahwa daya saing produk Indonesia di pasar global semakin melemah.
Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengingatkan bahwa Indonesia perlu memperkuat produktivitas dan daya saingnya agar tidak tertinggal. Dalam konteks ini, Indonesia harus berfokus pada pengembangan sektor manufaktur dan jasa yang bernilai tambah, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur.
Dengan persaingan yang semakin ketat di ASEAN, di mana Vietnam dan Filipina kini menjadi pesaing serius, Indonesia harus segera mengambil langkah strategis untuk menghindari terjebak dalam status negara berpendapatan menengah atas tanpa kemajuan lebih lanjut. Rizal menyatakan bahwa meskipun Indonesia memiliki keunggulan dalam skala ekonomi dan sumber daya alam, tantangan seperti biaya logistik yang tinggi dan regulasi yang tidak stabil masih menjadi penghambat pertumbuhan yang signifikan.
Sementara itu, laporan keuangan emiten BUMN di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menunjukkan beberapa BUMN mengalami peningkatan kinerja, seperti Pertamina dan beberapa bank besar. Namun, peningkatan ini belum cukup untuk mengimbangi pelemahan yang terjadi di sektor industri secara keseluruhan.
Dengan kondisi ini, pertanyaan penting yang muncul adalah, “Ekonomi tiga negara ASEAN bangkit, apa yang terjadi dengan Indonesia? [titlebase]”. Jika Indonesia ingin tetap bersaing, dibutuhkan upaya yang lebih agresif dalam industrialisasi dan inovasi, serta reformasi birokrasi yang efisien untuk meningkatkan daya tarik investasi.
Dalam menghadapi tantangan ini, Indonesia harus menyusun strategi yang jelas untuk memperbaiki posisi tawar di pasar global, serta memanfaatkan keunggulan domestik untuk membangun fondasi yang lebih kuat menuju status negara berpendapatan tinggi di masa depan.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet