Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang, Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa SMA Gratis di Sekolah Mitra
Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang, Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa SMA Gratis di Sekolah Mitra

Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang, Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa SMA Gratis di Sekolah Mitra

LintasWarganet.com – 14 Juli 2026 | Kisah anak pengemudi ojek di Semarang, gagal masuk sekolah negeri, akhirnya bisa SMA gratis di sekolah mitra. Anak pengemudi ojek ini adalah Rafa Fidianto, yang sebelumnya gagal diterima di sekolah negeri. Namun, dengan program sekolah kemitraan gratis dari Pemprov Jawa Tengah, Rafa akhirnya bisa melanjutkan pendidikan formalnya di SMA Laboratorium UPGRIS di Kota Semarang. Program ini membantu siswa prasejahtera yang gagal masuk sekolah negeri agar tetap bisa melanjutkan pendidikan formal mereka. Sebanyak 3.663 siswa kurang mampu kini menempuh pendidikan melalui kerja sama Pemprov Jawa Tengah dengan 139 sekolah swasta.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau langsung pelaksanaan hari pertama pembelajaran Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang, Senin, 13 Juli 2026. Program sekolah gratis Pemprov Jateng ini terbukti menjadi solusi nyata bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang sebelumnya gagal lolos dalam seleksi sekolah negeri, agar tetap bisa melanjutkan masa depan mereka. Rafa Fidianto mengaku senang pada hari pertamanya mengenakan seragam SMA. Ia berharap bisa mewujudkan cita-citanya, sehingga ia bisa membanggakan orang tuanya. Ia bercita-cita ingin menjadi tentara.

Cerita lain datang dari Kamdani, buruh tani ini merasa lega bisa menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut secara gratis. Dengan penghasilan tidak menentu, sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia mengaku kesulitan apabila harus menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anak ketiganya. Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya.

Gubernur Ahmad Luthfi berulang kali menyemangati mereka agar tidak merasa rendah diri karena kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga. Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat.

Sebenarnya, krisis jumlah peserta didik baru di sekolah dasar (SD) negeri di wilayah Solo Raya semakin nyata pada tahun ajaran 2026/2027. Berbagai upaya dilakukan sekolah untuk menarik minat calon siswa, mulai dari mendatangi rumah warga hingga menawarkan seragam gratis. Namun, langkah tersebut belum mampu mendongkrak jumlah pendaftar. Fenomena ini terjadi di sejumlah daerah, seperti Boyolali, Kota Solo, hingga Karanganyar. Bahkan, ada sekolah yang hanya menerima satu murid baru, sementara sekolah lain tidak mendapatkan peserta didik sama sekali selama dua tahun berturut-turut.

Salah satu sekolah yang hanya menerima satu murid baru adalah SD Negeri 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Boyolali. Guru di sekolah tersebut, Andriyani Mudrikah, mengatakan berbagai cara telah dilakukan untuk menjaring peserta didik baru, termasuk mendatangi calon siswa secara langsung. Sebenarnya kami sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan door to door mendatangi calon murid.

Banyak sekolah dasar negeri di Semarang juga mengalami penurunan jumlah peminat yang cukup signifikan. Bahkan, sejumlah SDN tercatat memiliki murid baru kurang dari 10 anak pada tahun ajaran kali ini, seperti yang terjadi di SDN Wonodri dan SDN Purwoyoso 1. Kondisi memprihatinkan ini langsung menjadi sorotan serius bagi Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng. Dia mengakui secara blak-blakan bahwa daya tarik SD negeri saat ini masih kalah jauh dibandingkan dengan sekolah swasta yang kian menjamur.

Oleh karena itu, sistem penerimaan siswa baru (SPMB) rencananya akan dibuka kembali demi menarik minat murid baru. SD dibuka lagi. Kan tahun lalu juga Semarang selalu begitu. Iya, ini menurut kepala dinas saya kalau dilihat-lihat SD kita itu memang kurang menarik.